11 Nov 2016

Cara Kreatif Pendukung Juventus di Kota Malang


Mendukung sebuah klub kebanggaan memiliki nilai tersendiri bagi para penggemarnya.  Hal tersebut ditujukan oleh fans Juventus dari kota Malang yakni Juventus Club Indonesia Chapter Malang.

Seperti diketahui, Juventus merupakan sebuah klub sepakbola raksasa asal Italia yang berdiri pada 1 November 1897. Selama 119 tahun sudah banyak gelar yang didapat oleh klub berjuluk Si Nyonya Tua tersebut.

Malang merupakan salah satu kota yang memiliki basis suporter kreatif tanah air  mempersembahkan dedikasinya saat Juventus berulang tahun. Juventini- sebutan untuk pendukung Juventus rela memberikan kado spesial untuk klub kesayangannya.

Usaha kreatif mereka dijadikan video, kemudian  diunggah di sosial media Twitter @JCI_Malang. Aksi tersebut dilakukan lewat terjun payung dan memberikan pesan selamat ulang tahun kepada Juventus.

Tentunya para pendukung sebuah klub rela menuangkan ide kreatifnya saat klub kebanggaannya berulang tahun. Berharap agar di akhir musim bisa meraih gelar juara dan kesuksesan.


Berikut dedikasi Juventini Malang kepada Juventus pada  November 2016:


Read MoreCara Kreatif Pendukung Juventus di Kota Malang

3 May 2016

Dari Nelayan Tua Hingga ke Ranieri






Claudio Ranieri

“Tetapi lelaki tak diciptakan untuk kalah. Seorang lelaki bisa dihancurkan,namun tak bisa dikalahkan,” Santiago- The Man and the sea.

Petikan kalimat tersebut mungkin ada di benak Claudio Ranieri selaku manajer Leicester City ketika membangun timnya dengan semangat dan tekad yang luar biasa. Ia dan Santiago, tak jauh berbeda, sama-sama tua dan tak pernah merasakan kejayaan lagi di kala dunia semakin berubah di setiap detiknya.

Sebelumnya saya ingin menceritakan sedikit tentang kisah cerita yang fenomenal karya Ernest Hamingway,yakni The old man and The sea. Seorang nelayan tua yang pernah sukses di masa mudanya dalam mengarungi lautan untuk mencari ikan di lautan yang luas. Lantas, memasuki usia yang tak muda, ia dijuluki “pemburu ikan yang sial” oleh masyarakat tempat tinggalnya. Hal tersebut karena belakangan ia sudah jarang mendapatkan ikan lagi.

Untungnya, ia memiliki teman, seorang anak muda yang tiap hari menemaninya. Ya, seorang bocah yang selalu melayani dan merawatnya selama berlayar ataupun ketika tak melaut. Tak ayal, suatu hari ia pergi berburu seorang diri, hingga akhirnya sukses mendapatkan ikan Marlin Raksasa, kejadian itu membuat masyarakat setempat takjub dengan apa yang didapatkan si nelayan tua tersebut. Dari perburuannya selama 85 hari, Santiago melewati berbagai cobaan yang berat, namun imajinasi dan semangatnya lah yang membawanya kembali sukses.

Ranieri seorang pelatih berusia 64 tahun, yang pernah membesut beberapa klub, yakni Cagliari, Napoli, Fiorentina, Valencia, Atletico Madrid, Chelsea, Parma, Juventus, AS Roma, Inter, Monaco dan Timnas Yunani. Dari tangannya, ia berhasil membangun pondasi klub dengan mencetak beberapa bibit muda hingga menjadi pemain kunci. Sayangnya, ia tak pernah mempersembahkan satu gelar juara liga, baik di Italia, Spanyol dan Inggris.

Siapa yang tak kenal Frank Lampard, Jhon Terry (Chelsea), Claudio Marchisio (Juventus) segelintir pemain yang diangkat namanya oleh pelatih kelahiran Roma tersebut. Mereka sudah memiliki jalannya sendiri, tetapi ingat, Ranieri lah yang membuka kunci menuju kesuksesan pada pemain tersebut.

Ranieri ditunjuk menangani Leicester City setelah menggantikan peran Nigel Pearson musim 2014-2015. Tim ini musim lalu berjuang keluar dari zona degradasi, namun kedatangan pelatih Italia tersebut mengubah mental skuadnya dengan daya magis. Pemain seperti Jamie Vardy dan Riyad Mahrez lahir menjadi sosok vital di King Power Stadium.

Ya, Vardy merupakan prototipe awal racikan Ranieri musim ini dalam menciptakan magisnya. Hal ini dilakukan agar semua mata tertuju pada klubnya yang kerap dipandang sebelah mata. Hasilnya, mantan pemain Sheffield Wednesday tersebut sukses menyamai rekor milik eks penyerang Manchester United, Ruud van Nistelrooy. Golnya ke gawang Newcastle United tak hanya membuka keran gol kemenangan 3-2 timnya, melainkan jadi gol ke-10 dari sepuluh laga beruntun.

Tak berhenti disitu, rekan Vardy, Riyad Mahrez juga berperan penting dalam menjalankan mesin kemenangan demi kemenangan timnya untuk tetap bertengger di papan atas klasemen Premier League. Ia berhasil menceploskan 17 gol dan 11 assist bagi The Foxes yang bisa saja bertambah hingga akhir musim nanti.

Luar biasanya, Leicester City berhasil keluar sebagai juara Liga Inggris musim 2015-16, hal ini terjadi setelah pesaingnya, Tottenham Hotspur melawan Chelsea (mantan klub Ranieri) meraih hasil imbang 2-2. Praktis memiliki selisih tujuh angka dengan dua pertandingan sisa, anak asuh Pocchetino, tak bisa mengejar poin milik Leicester yakni 77 berbanding 70 milik Spurs.

Sentuhan magic Ranieri musim ini diciptakan lewat kekompakan antar lini. Ya, musim ini Leicester menggunakan formasi basic yakni 4-4-2, kendati demikian pola tersebut bertransformasi menjadi double 6. Dimana dasarnya menumpuk pemain di sector tengah dengan lima pemain dan satu pemain tunggal di lini depan. Mahrez dan Vardy menjadi dua pemain kunci yang membuat kombinasi yang apik dalam menelurkan beberapa peluang gol. Poros ini sangat kuat, karena ditopang distribusi dari  lini belakang, hingga ke tengah dan diteruskan ke depan.

4-4-2 double 6


Formasi tersebut digunakan sebanyak 10 pertandingan dari 41 di seluruh laga yang diikuti Leicester. Selain itu, Ranieri mencoba beberapa formasi 4-3-3 ofensif, namun hasilnya mereka kalah dari pesaing mereka Tottenham di Piala FA.

Dari seluruh pertandingan yakni 44, Leicester tercatat meraih 24 menang, 2 seri dan lima kali kalah. Gol yang tercipta pun ada 77 dengan jumlah kebobolah 46.

Memang, Ranieri pernah sukses mengantarkan beberapa trofi bagi klub yang pernah dibelanya. Diantaranya Fiorentina Coppa Italia dan Super Coppa Italia (1995), Piala Raja Spanyol (1998), dan UEFA Super Cup (2004) bersama Valencia. Namun, kini ia sukses di ranah Inggris dengan menjuarai Premier League pertamanya bersama tim yang tak diunggulkan pada awal musim. Hal ini menjadi pukulan telak bagi klub-klub kaya Inggris yang terkenal royal mengeluarkan duit.

Kederhanaan serta pengalaman membuat nama Ranieri kembali terangkat, hal tersebut banyak memberikan pelajaran. Sama seperti keadaan yang diterima Santiago, sang nelayan tua yang dicap nelayan sial, sudah tak memiliki energi lagi untuk berlayar. Namun kepercayaan tekad yang kuat itu muncul hingga membuat semuanya tercengang dengan apa yang dibawanya yaitu Ikan besar.
Saya ucapkan Selamat kepada Claudio Ranieri, saya mengenal Anda karena pernah membesut Juventus, meski tak ada gelar yang anda berikan. Setidaknya anda sudah membuka jalan dengan membangun pondasi tim dari pemain muda yang ada. Congratulations!

*Saya adalah orang yang mau belajar dari ketidakpercayaan menjadi percaya.   
Read MoreDari Nelayan Tua Hingga ke Ranieri

26 Sep 2015

Mantan

Berasal dari sebuah ikatan, itulah mantan
penuh kabahagiaan, kebersamaan dan tatapan
namun itu adalah awalan
yang akan menjadi akhiran.

Dulu kita pernah berjanji
lewat hati, hingga jalani hari yang terlewati
haruskah seperti ini?
Aku mengingkari bilangan hati
tak sanggup lagi dengan sayang-menyayangi

Di ujung jalan itu
aku menemukan ketentraman yang membuatku utuh
Diri sendiri untuk menghapus masa lalu,
Cinta yang lalu itu bukanlah cinta yang sungguh
itu hanya janji yang membuatmu terluka di saat waktu
yang tak tentu, jika kita dalam hati yang semu.

Wahai Mantan, diriku tahu Kita akan bahagia ke depannya
tapi Kita tak akan pernah bersama
Aku, Kamu adalah sebuah ikatan yang bermula
tapi pada akhirnya, Kita adalah sama.
Aku mantanmu dan kamu adalah mantanku...


Itulah catatan dalam hidupku tentang sebuah "mantan", sudah satu, dua, tiga, empat hingga ada yang lima tahun lamanya.
berbagai cara untuk melakukan sebuah ikatan yang dulunya untuk masa depan, namun berakhir dengan menjadi mantan. Bukan
kejahatan yang aku lakukan, tapi aku sadar itu sudah kejam membuat hati manusia ingat akan sebuah penyesalan.

Mereka harusnya bersyukur telah diberikan kedewasaan, penyesalan yang ku maksud itu adalah keselamatan.
terlihat jahat dengan apa yang aku lakukan, yang kemudian hubungan dengan mantan itu adalah akhiran.
tak berteman, tanpa sentuhan bahkan menulis nama di sosial media terlupakan.

Inilah yang aku terima, tapi kalian apa bisa menerima maksud dari semua ini wahai para mantan?
jangan jawab saat merasa kehilangan kau merasa menyesal. ingin kembali, jatuh dalam cinta yang buta.
jatuh cinta lagi itu seperti rasa mati yang dihidupi, ku tak ingin mengulangi, karena cinta yang kucari adalah
cinta yang memiliki instuisi.

Terima kasih, Jika itu keputusanmu
semoga kamu bahagia disana. -itu kata mantan pertama


Terima kasih, katakan Mantan
Jika itu adalah Mantan di hatimu.. -itu kata mantan kedua

Terima kasih, good bye and thank you yeaa! -itu kata mantan ketiga


Terima kasih, Aku merasa masih ada yang bisa aku pertahankan, hingga dirimu katakan berhenti. - itu kata mantan keempat
Read MoreMantan

3 Aug 2015

(AFTER) Nonton Catatan Akhir Kuliah

Foto Bersama rekan seperjuangan di Malang

27 Juli 2015... Hari yang ditunggu-tunggu oleh para Mantan Mahasiswa yang hidup di rantauan (sapa lagi kalo bukan Kami) yah... Kami itu adalah Abdur, Alfaneko, Hanung, Adit dan si Mbah kakung kami yang sangat Kami banggakan Endro AS. Berjanji di sebuah bioskop Epicentrum bilangan Jakarta aja, Kami sepakat untuk menonton film aksi perdana sahabat kami Abdur Arsyad. Meski sebelumnya dia pernah bermain di film Air dan Api 2 tetapi film Catatan Akhir Kuliah ini merupakan film perdananya dalam dunia akting.

Yah sudah tahukan "Catatan Akhir Kuliah" ini merupakan sebuah novel karya dari Sam, yang di bukunya itu menceritakan tentang kehidupan kampus, masa gejolak asmara yang berakhir payah hingga berakhir indah pada waktunya. Nah karyanya Sam akhirnya hadir dalam bentuk sebuah maha karya lagi yaitu lewat layar kaca (bioskop) yang di produksi oleh "Dari Hati".

Okeh lanjut, menurut sinopsisnya film ini menceritakan  Sam (Muhadkly Acho), Sobari (ajunPerwira), Ajeb (Abdur Arsyad) membuat sebuah janji akan wisuda bersama, yang diyakini sebagai janji persahabatan mereka. Seiring perjalanan perkuliahan persahabatan mereka dipertaruhkan. Ternyata hingga menjelang batas perkuliahan , hanya Sam yang belum menyelesaikan tugas akhir (Skripsi).

Kesedihan Sam semakin komplit setelah mengetahui Kodok (Anjani Dina) cewek yang ia kagumi sudah memiliki pacar bernama Iwan (Andovi da Lopez). Pengalaman cinta ditolak seperti terulang kembali saat Sam menembak Wibi (Elizya Mulachela) yang lebih memilih setia dengan kekasihnya dikampung halaman. Cinta Sam selalu terjebak dalam situasi Friendzone. Dan Sam berada di titik terbawah dalam hidupnya. Sam Harus bangkit berjuang menyelesaikan atau harus merelakan semuanya dan menjadi mahasiswa gagal. 

Nah... Setelah menonton film ini Saya pribadi merasa de javu, karena Saya benar-benar mengalami hal yang dialami oleh Sam. Menjadi Mahasiswa yang telat lulus bahasa kampusnya MABA v.2 (Mahasiswa Abadi). Memang kehidupan ini akan tetap selalu berjalan dan Kita tidak hanya bergerak disitu-situ aja, memang kehidupan memberikan Kita pilihan senang namun kelak akan sedih begitu juga seterusnya. Sama halnya dalam pengerjaan skripsi yang dimana kita dituntut harus fokus, tetapi dalam prosesnya ada saja cobaan seperti kumpul bersama teman komunitas, aktif di kegiatan sosial bahkan di media sosial.

Memang tidak salah apa yang Kita lakukan itu namun bisakah kita untuk fokus dengan namanya tugas akhir kuliah atau Skripsi. Belum lagi nantinya akan menjadi bahan jika berkumpul bersama keluarga. Kadang ini menjadi aib melebihi menghamili anak orang,,Upppsss.... Iya karena jika menghamili ya harus nikah... perkara habis. Jika Skripsi? aibnya bisa melebihi itu!!! pertama harus penelitian, ACC dosen, Ujian...fyuuuh ngeri~

Tapi Santai kawans... Janganlah berkecil hati, ada film Catatan Akhir Kuliah yang akan menjadi motivasimu untuk segera menyelesaikan tugas akhirmu. Meski filmnya bergenre komedi selalu ada pesan khusus yang disampaikan dan pada akhirnya menggelitikmu untuk tertawa.

Overall ini merupakan tontonan wajib bagi Mahasiswa yang sudah lama/ belum lulus,,Eiits... iya ini merupakan peluang buat Kamu karena "Jangka waktu kuliah itu tidak diukur dalam kesuksesan seseorang, tapi justru merupakan prestasi tersendiri jika tepat waktu (injury time)". Nah itu, pasti bakal ada jalan sukses bagi mereka yang tak kenal menyerah.

Diakhir cerita ini Saya ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada Sahabat Saya Abdurrahim Arsyad, Selalu sukses hadirkan tawa dan canda untuk Kami semua. Dan secara tidak langsung salut untuk Film Catatan Akhir Kuliah yang mampu memberikan motivasi bagi penonton. Bagi yang belum tonton masih ada kesempatan lho untuk hadir di Bioskop, jangan lupa bawa aja salinan skripsi kamu yang habis dicoret-coret dosen pembimbing :D

Read More(AFTER) Nonton Catatan Akhir Kuliah

19 Jun 2015

Membangun Kebiasaan di bulan Ramadhan


perenungan diri untuk lebih baik
 
 
Marhaban ya Ramadhan, sebuah jalan menuju kemenangan untuk segenap kaum muslim di dunia. Disini Saya tidak menulis secara menyeluruh tetapi lebih ke hal “motivasi diri” dalam menyambut dan melaksanakan bulan ramadhan. Tak terasa sudah sehari Kita lewati puasa, semoga kita mampu menjaga puasa kita tetap utuh dan tidak ada bolong, semoga.. Amiin ya Allah

Seperti mempunyai barang baru dimana pada awalnya kita selalu menjaganya agar terlihat indah dan bagus, begitu juga untuk penataan hati dan niat pada awalnya. Awal bulan sudah menyiapkan niat untuk lebih baik dalam menjaga puasa tetapi saat di tengah-tengah  semangat berkurang hingga hilanglah puasa (bolong), ntah karena gangguan eksternal ataupun internal yang lagi goyah. Nah untuk menghindari hal itu Saya ingin membagikan tips bahwasanya Puasa itu menjaga kita agar konsisten dengan niat awal Kita. Mari Kita jaga puasa kita dengan:

1.       Tetap menjaga sholat

Ini merupakan ibadah yang paling mudah kita lakukan, dengan sholat 5 waktu kita bisa merasa dekat dengan Allah, juga merupakan hal wajib bagi setiap muslim bukan? Namun karena bulan puasa banyak yang merasa bahwa tidurnya ibadah dan sampai-sampai kebablasan tau-taunya sudah adzan maghrib. Yang menghalangi hanya rasa malas, so Ayo hilangkan sifat ini dengan cara disiplin diri dan menghargai waktu.

 

2.       Membaca Al Qur’an

Ketika kita tersesat dan tak tau arah inilah salah satu petunjuk Kita untuk ke jalan yang benar. Tahukah bahwa membaca al Quran/ tadarus di bulan puasa pahalanya dilipat gandakan, bahkan satu huruf saja itu sudah 1 pahala untuk Kita. Apa lagi sampai mengkhatamkan Al qur’an selama bulan Ramadhan maka pintu surge terbuka untuk kita. Subhanallah… Saya pribadi baru sehari saja membaca Al qur’an seperti mendapat spirit bahkan membaca dengan terjemahannya itu memberikan saya arah bahwa apa yang saya lakukan sebelumnya itu adalah perbuatan yang salah. Membaca al qur’an itu seperti kita mengaca dan di kaca kita melihat diri kita apakah kita sudah benar? Atau perlu lebih benar lagi dalam menjalani kehidupan? Jawabannya hanyalah membaca ayat demi ayat di Al Qur’an.

 

3.       Berkomunikasi dengan orang sekitar

Berkomunikasi adalah hal yang terpenting dalam hidup, komunikasi merupakan jembatan kita untuk berinteraksi dengan sesama. Dengan berinteraksi dengan orang sekitar kita bisa menerima informasi bahkan kita bisa sharing baik itu ilmu pengetahuan atau bisnis. Yang perlu dihindari adalah jauhi pembicaraan yang berbau gossip atau menceritakan kejelekan orang baiknya ceritakan hal-hal yang berbau positif atau motivasi.

 

Nah 3 poin diatas memang hal yang terlihat membosankan, tetapi Saya yakin niat Kita dalam menghadapi puasa pasti ingin seperti itu. Karena kita tentu ingin menjadi manusia yang baik serta mempunyai iman kuat dalam menghadapi ujian kehidupan. Inilah kenapa pada awalnya kita sudah mempunyai rencana tetapi hanya sekedar rencana tanpa membangun pondasi yang kuat dalam menjalankannya. Saya pernah membaca sebuah buku yang didalamnya menuliskan bahwa kebiasaan manusia itu terbentuk selama 21 hari, jadi jika ingin terbiasa dalam hidup ubah gaya hidup kita selama 21 hari maka akan terbentuk sesuatu kebiasaan apa yang kita kerjakan (seperti menjalankan 3 poin diatas).

 
Kebahagian itu tercipta dari apa yang kita pikirkan, dan niat itu merupakan langkah awal dari sebuah tujuan kebahagian itu. Yuks,, mari kita menciptakan kebiasaan Kita untuk lebih dekat dengan Allah di bulan penuh barokah (Ramadhan) ini dan semoga akan terbawa di bulan-bulan lainnya agar menjadi muslim yang kuat dan taat.

 

*) Senang kembali menulis di blog, Saya pribadi ingin mengucapkan Selamat menjalankan Ibadah puasa semoga Kita bisa sampai menuju kemenangan yang hakiki, Amiiin….  
Read MoreMembangun Kebiasaan di bulan Ramadhan

1 Feb 2015

Akhirnya #AkuWisUdah

no Edit!

"Berjalanlah walau habis terang, ambil cahaya cinta Ku terangi jalanmu"

Sejenak terdengar sebuah lagu Peterpan berjudul "Walau habis terang", teringat tanggal 24 Januari lalu. Sebuah prestasi tersendiri buat aku untuk bisa membahagiakan kedua orang tua yang datang, dan juga kerabat terdekat yang turut ikut serta datang mengucapkan selamat. Selayaknya moment ini telah terjadi beberapa tahun yang lalu, namun aku menunda segala sesuatu agar terlihat banyak cerita di dalamnya.

Gelar akademik itu sudah aku raih pada tahun 2013 lalu (baca ini)  tetapi itu saja tidak cukup. Semua orang butuh bukti kamu menggunakan toga. iya toga.... Tolak untuk Gagal!
Orang tua pun selalu menanyakan hal yang sama, hingga panggilan mereka mengalahkan notif yang ada di Path, twitter bahkan facebook. "Ocehan Sayang" iya itu kataku sendiri, karena orang tua selalu mengoceh tiap aku angkat telpon mereka. "Tatang, kapan wisuda?", "Tang,wisudanya kapan?", hingga "Wisuda kapan nunggu kamu, Tang?". Fiuuuhhh, pusing semacam ingin tutup telpon lebih cepat. Setelah telpon tak berbunyi ada yang berbunyi hingga bergetar... Yaaahhh BBM, BBM dari mbakku, isi chatnya tidak kurang dan tidak lebih sama dengan apa yang dikatakan oleh orang tuaku. "Wisuda kapan berakhir?"

Tiba di suatu masa, di suatu malam yang sunyi. Aku berfikir untuk segera mengakhiri semua ini, karena hidup terus berjalan dan waktu adalah musuh yang nyata dan tidak bisa dibunuh."ini sudah akhir 2014, aku tak bisa memberikan kado penutup, tapi aku berharap kado pembuka awal tahun akan lebih berkesan." Sampai akhirnya tibalah tanggal 24 Januari 2015. #AkuWisUdah dengan segala permainan ini.

Perjuangan... memang tapi ini adalah sebuah pengorbanan untuk meraih nilai perjuangan tersebut, Niat untuk membahagiakan orang yang paling dekat adalah sederhana tapi rumit untuk jalaninya. Aku berterima kasih untuk Kedua Orang tuaku yang selalu sabar menunggu kapan wisuda itu, juga orang yang aku sayangi yang selalu berinteraksi setiap saat denganku. "Kalian adalah Senyuman bahagia" terutama rekan-rekan di JCI Malang.

Selamat datang di dunia sebenarnya, bagilah ilmu apa yang kamu dapat agar orang sekitarmu juga merasakannya. tetap berkreasi dan berinovasi karena Dunia membutuhkan manusia yang mempunyai inisiatif untuk membangun. Udara yang ku hirup berbahasa seperti itu pada hari Sabtu lalu.


Diantara beribu lainnya, mungkin hanya satu yang seperti ini...
Menyelesaikan study hingga 8 tahun,
Dari Juventus di Serie B hingga kembali menjuarai Serie A,
dari hanya MATOS hingga ada MOG,
dari Abdur sibuk cari kos hingga sibuk Syuting


Ah sudahlah, diantara beribu ada satu, itupun aku bersyukur. Meski gelap tak selamanya suram karena akan ada tiba terang yang akan meneranginya.

bersama rekan JCI Malang
                                




Read MoreAkhirnya #AkuWisUdah

15 Oct 2013

Kembali menulis dan bercerita di Idul Adha



Hap-hup-hap-hup…Akhirnya nulis lagi setelah sekian lama tidak nemuin mood sejak pulang dari kampung halaman…hehehe
Bukan tanpa alasan karena nemuin mood itu susah banget dan juga ada kejadian gak terduga datang hingga membuat moody berubah. But it’s Ok, yang penting Saya bisa menulis lagi sekarang...

Allahu Akbar ... Allahu Akbar ....Allahu Akbar  Suara takbir menggema sejak semalam di kota Malang, degupan jantung terasa lebih berdebar dari biasanya. Isi kepala seakan terbawa oleh imajinasi di rumah dan juga pertanda ini adalah malam Takbiran terakhir di Kota ini… Umat Muslim kembali meraih kemenangan, setelah idul Fitri kini kita menuju ke kemenangan Hati yang diperoleh dari buah kesabaran. Di Hari Raya ini Saya ingin sedikit posting cerita tentang Kisah Nabi Ibrahim AS dan anaknya Isma’il AS yang menjadi latar belakang orang berHaji ke tanah Suci Mekkah. Semoga kisah ini menjadi inspirasi dan Kita bisa mengambil hikmah dibaliknya. 


Pada suatu hari, Nabi Ibrahim AS menyembelih kurban fisabilillah berupa 1.000 ekor domba, 300 ekor sapi, dan 100 ekor unta. Banyak orang mengaguminya, bahkan para malaikat pun terkagum-kagum atas kurbannya. “Kurban sejumlah itu bagiku belum apa-apa. Demi Allah! Seandainya aku memiliki anak lelaki, pasti akan aku sembelih karena Allah dan aku kurbankan kepada-Nya,” kata Nabi Ibrahim AS, sebagai ungkapan karena Sarah, istri Nabi Ibrahim belum juga mengandung. Kemudian Sarah menyarankan Ibrahim agar menikahi Hajar, budaknya yang negro, yang diperoleh dari Mesir. Ketika berada di daerah Baitul Maqdis, beliau berdoa kepada Allah SWT agar dikaruniai seorang anak, dan doa beliau dikabulkan Allah SWT. Ada yang mengatakan saat itu usia Ibrahim mencapai 99 tahun. Dan karena demikian lamanya maka anak itu diberi nama Isma’il AS, artinya "Allah telah mendengar". Sebagai ungkapan kegembiraan karena akhirnya memiliki putra, seolah Ibrahim berseru: "Allah mendengar doaku". Ketika usia Ismail menginjak kira-kira 7 tahun (ada pula yang berpendapat 13 tahun), pada malam tarwiyah, hari ke-8 di bulan Dzulhijjah, Nabi Ibrahim AS bermimpi ada seruan, “Hai Ibrahim! Penuhilah nazarmu (janjimu).” Pagi harinya, beliau pun berpikir dan merenungkan arti mimpinya semalam. Apakah mimpi itu dari Allah SWT atau dari setan? Dari sinilah kemudian tanggal 8 Dzulhijah disebut sebagai hari tarwiyah (artinya, berpikir/merenung). Pada malam ke-9 di bulan Dzulhijjah, beliau bermimpi sama dengan sebelumnya. Pagi harinya, beliau tahu dengan yakin mimpinya itu berasal dari Allah SWT. Dari sinilah hari ke-9 Dzulhijjah disebut dengan hari ‘Arafah (artinya mengetahui), dan bertepatan pula waktu itu beliau sedang berada di tanah Arafah. Malam berikutnya lagi, beliau mimpi lagi dengan mimpi yang serupa. Maka, keesokan harinya, beliau bertekad untuk melaksanakan nazarnya (janjinya) itu. Karena itulah, hari itu disebut denga hari menyembelih kurban (yaumun nahr). Dalam riwayat lain dijelaskan, ketika Nabi Ibrahim AS bermimpi untuk yang pertama kalinya, maka beliau memilih domba-domba gemuk, sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya. Beliau mengira bahwa perintah dalam mimpi sudah terpenuhi. Untuk mimpi yang kedua kalinya, beliau memilih unta-unta gemuk sejumlah 100 ekor untuk disembelih sebagai kurban. Tiba-tiba api datang menyantapnya, dan beliau mengira perintah dalam mimpinya itu telah terpenuhi. Pada mimpi untuk ketiga kalinya, seolah-olah ada yang menyeru, “Sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu agar menyembelih putramu, Ismail.” Beliau terbangun seketika, langsung memeluk Ismail dan menangis hingga waktu Shubuh tiba. Untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut, beliau menemui istrinya terlebih dahulu, Hajar (ibu Ismail). Beliau berkata, “Dandanilah putramu dengan pakaian yang paling bagus, sebab ia akan kuajak untuk bertamu kepada Allah.” Hajar pun segera mendandani Ismail dengan pakaian paling bagus serta meminyaki dan menyisir rambutnya. Kemudian beliau bersama putranya berangkat menuju ke suatu lembah di daerah Mina dengan membawa tali dan sebilah pedang. Pada saat itu, Iblis terkutuk sangat luar biasa sibuknya dan belum pernah sesibuk itu. Mondar-mandir ke sana ke mari. Ismail yang melihatnya segera mendekati ayahnya. “Hai Ibrahim! Tidakkah kau perhatikan anakmu yang tampan dan lucu itu?” seru Iblis. “Benar, namun aku diperintahkan untuk itu (menyembelihnya),” jawab Nabi Ibrahim AS. Setelah gagal membujuk ayahnya, Iblsi pun datang menemui ibunya, Hajar. “Mengapa kau hanya duduk-duduk tenang saja, padahal suamimu membawa anakmu untuk disembelih?” goda Iblis. “Kau jangan berdusta padaku, mana mungkin seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar. “Mengapa ia membawa tali dan sebilah pedang, kalau bukan untuk menyembelih putranya?” rayu Iblis lagi. “Untuk apa seorang ayah membunuh anaknya?” jawab Hajar balik bertanya. “Ia menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu”, goda Iblis meyakinkannya. “Seorang Nabi tidak akan ditugasi untuk berbuat kebatilan. Seandainya itu benar, nyawaku sendiri pun siap dikorbankan demi tugasnya yang mulia itu, apalagi hanya dengan mengurbankan nyawa anaku, hal itu belum berarti apa-apa!” jawab Hajar dengan mantap. Iblis gagal untuk kedua kalinya, namun ia tetap berusaha untuk menggagalkan upaya penyembelihan Ismail itu. Maka, ia pun menghampiri Ismail seraya membujuknya, “Hai Isma’il! Mengapa kau hanya bermain-main dan bersenang-senang saja, padahal ayahmu mengajakmu ketempat ini hanya untk menyembelihmu. Lihat, ia membawa tali dan sebilah pedang,” “Kau dusta, memangnya kenapa ayah harus menyembelih diriku?” jawab Ismail dengan heran. “Ayahmu menyangka bahwa Allah memerintahkannya untuk itu” kata Iblis meyakinkannya. “Demi perintah Allah! Aku siap mendengar, patuh, dan melaksanakan dengan sepenuh jiwa ragaku,” jawab Ismail dengan mantap. Ketika Iblis hendak merayu dan menggodanya dengan kata-kata lain, mendadak Ismail memungut sejumlah kerikil ditanah, dan langsung melemparkannya ke arah Iblis hingga butalah matanya sebelah kiri. Maka, Iblis pun pergi dengan tangan hampa. Dari sinilah kemudian dikenal dengan kewajiban untuk melempar kerikil (jumrah) dalam ritual ibadah haji. Sesampainya di Mina, Nabi Ibrahim AS berterus terang kepada putranya, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?…” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102). “Ia (Ismail) menjawab, ‘Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah! Kamu mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 102). Mendengar jawaban putranya, legalah Nabi Ibrahim AS dan langsung ber-tahmid (mengucapkan Alhamdulillâh) sebanyak-banyaknya. Untuk melaksanakan tugas ayahnya itu Ismail berpesan kepada ayahnya, “Wahai ayahanda! Ikatlah tanganku agar aku tidak bergerak-gerak sehingga merepotkan. Telungkupkanlah wajahku agar tidak terlihat oleh ayah, sehingga tidak timbul rasa iba. Singsingkanlah lengan baju ayah agar tidak terkena percikan darah sedikitpun sehingga bisa mengurangi pahalaku, dan jika ibu melihatnya tentu akan turut berduka.” “Tajamkanlah pedang dan goreskan segera dileherku ini agar lebih mudah dan cepat proses mautnya. Lalu bawalah pulang bajuku dan serahkan kepada agar ibu agar menjadi kenangan baginya, serta sampaikan pula salamku kepadanya dengan berkata, ‘Wahai ibu! Bersabarlah dalam melaksanakan perintah Allah.’ Terakhir, janganlah ayah mengajak anak-anak lain ke rumah ibu sehingga ibu sehingga semakin menambah belasungkawa padaku, dan ketika ayah melihat anak lain yang sebaya denganku, janganlah dipandang seksama sehingga menimbulka rasa sedih di hati ayah,” sambung Isma'il. Setelah mendengar pesan-pesan putranya itu, Nabi Ibrahim AS menjawab, “Sebaik-baik kawan dalam melaksanakan perintah Allah SWT adalah kau, wahai putraku tercinta!” Kemudian Nabi Ibrahim as menggoreskan pedangnya sekuat tenaga ke bagian leher putranya yang telah diikat tangan dan kakinya, namun beliau tak mampu menggoresnya. Ismail berkata, “Wahai ayahanda! Lepaskan tali pengikat tangan dan kakiku ini agar aku tidak dinilai terpaksa dalam menjalankan perintah-Nya. Goreskan lagi ke leherku agar para malaikat megetahui bahwa diriku taat kepada Allah SWT dalam menjalan perintah semata-mata karena-Nya.” Nabi Ibrahim as melepaskan ikatan tangan dan kaki putranya, lalu beliau hadapkan wajah anaknya ke bumi dan langsung menggoreskan pedangnya ke leher putranya dengan sekuat tenaganya, namun beliau masih juga tak mampu melakukannya karena pedangnya selalu terpental. Tak puas dengan kemampuanya, beliau menghujamkan pedangnya kearah sebuah batu, dan batu itu pun terbelah menjadi dua bagian. “Hai pedang! Kau dapat membelah batu, tapi mengapa kau tak mampu menembus daging?” gerutu beliau. Atas izin Allah SWT, pedang menjawab, “Hai Ibrahim! Kau menghendaki untuk menyembelih, sedangkan Allah penguasa semesta alam berfirman, ‘jangan disembelih’. Jika begitu, kenapa aku harus menentang perintah Allah?” Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (bagimu). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shâffât, [37]: 106) Menurut satu riwayat, bahwa Ismail diganti dengan seekor domba kibas yang dulu pernah dikurbankan oleh Habil dan selama itu domba itu hidup di surga. Malaikat Jibril datang membawa domba kibas itu dan ia masih sempat melihat Nabi Ibrahim AS menggoreskan pedangnya ke leher putranya. Dan pada saat itu juga semesta alam beserta seluruh isinya ber-takbir (Allâhu Akbar) mengagungkan kebesaran Allah SWT atas kesabaran kedua umat-Nya dalam menjalankan perintahnya. Melihat itu, malaikai Jibril terkagum-kagum lantas mengagungkan asma Allah, “Allâhu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar”. Nabi Ibrahim AS menyahut, “Lâ Ilâha Illallâhu wallâhu Akbar”. Ismail mengikutinya, “Allâhu Akbar wa lillâhil hamd”. Kemudian bacaan-bacaan tersebut dibaca pada setiap hari raya kurban (Idul Adha).

Sungguh Luar biasa Kisah diatas, dengan ketabahan dan kesabaran Nabi Ibrahim dengan anaknya Ismail AS. Mereka benar-benar menjalankan perintah TuhanNya, lewat berkurban. Besar sekali nilai yang bisa Kita ambil dari Kisah ini, Apalagi dijaman sekarang tidak banyak orang tua ataupun anak yang bisa mengerti/paham(posisi). Orang tua terlalu memanjakan anaknya hingga anak tersebut melakukan kesalahan fatalpun tidak di tegur hingga beralasan karena sayang kepada anak. Di posisi anakpun dia hanya bisa menyesali dan menerima kenyataan yang ada. 

di hari Idul Adha ini Kita bisa mengambil momen agar sama-sama mau belajar kembali untuk dekat kepada Sang Pencipta dan menaati perintahnya, karena sudah banyak kenikmatan yang diberikan pada Kita tapi kita tidak pernah merasa puas. Beda dengan jika mendapat cobaan/musibah Kita terlalu cepat mengeluh tanpa bisa mengenal sabar dan ikhlas.

*) Sumber Cerita Nasiruddin, S.Ag, MM, 2007, Kisah Orang-Orang Sabar, Republika, Jakarta


Read MoreKembali menulis dan bercerita di Idul Adha