29 Mar 2013

Sejarah Kota Kelahiran


Pulau Sumbawa

Tidak asyik rasanya jika mempunyai media informasi/blog tanpa mencaritakan asal usul kota kelahiran. tersimpan sebuah kebanggan tersendiri, walau mungkin hanya numpang lahir sekalipun. Identitas itu perlu, karena latar belakang mencerminkan sebuah karakter. Disini saya mencoba menggali informasi tentang tanah kelahiran dan tanah leluhur saya yaitu Kabupaten Sumbawa.

SUMBAWA
 Dari wikipedia menyebutkan Kabupaten Sumbawa adalah sebuah kabupaten di provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Sumbawa Besar yang lahir pada 22 Januari 1959. Kabupaten ini terletak di sebagian besar bagian barat Pulau Sumbawa. Batas-batas wilayahnya adalah: Laut Flores dan Teluk Saleh di utara, Kabupaten Dompu di timur, Samudra Hindia di selatan serta Kabupaten Sumbawa Barat di barat. Kabupaten Sumbawa memiliki luas wilayah 8.493 km² dengan jumlah penduduk sekitar 413.869 jiwa.

Orang Sumbawa biasanya disebut “Tau Samawa” makna SAMAWA berasal dari kata arab, sama' yang berarti langit dan bentuk jamaknya adalah samaawaat yang berarti langit-langit (tata surya)dan jika ditafsirkan sesuai dengan khaidah tafsir qur'an maka artinya adalah langit dari langit pertama hingga langit ketujuhTerdapat didalam sebuah catatan Van der Wolk seorang berkebangsaan Belanda yang menjabat sebagai Kepala Pemerintahan (Gezaghebber) di Sumbawa. Didalam bukunya yang berjudul “Memorie van Overgave” atau Kenang-Kenangan selama Memerintah. Sebuah buku yang menjelaskan bahwa penduduk asli Sumbawa atau disebut tau Samawa, mula- mula adalah penduduk yang berasal dan bermukim di Semenanjung Sanggar, lereng Gunung Tambora pada ketinggian kurang lebih 2.850 mdpl. Gunung Tambora (Tomboro) adalah gunung api aktif tertinggi kedua setelah Puncak Jaya (Carstensz Piramid 4884 m dpl) di Papua, yang kita tahu dimana pada 10 April 1815 letusan gunung Tambora sempat menggetarkan Dunia (BACA)Kembali didalam buku Memorie van Overgave tercatat bahwa saat itu Tau Samawa masih menganut aliran animisme yang cenderung beranggapan bahwa wilayah pegunungan memiliki kekuatan yang dapat melindungi mereka. Kemudian, kelompok penduduk yang merupakan kategori pendatang baru, adalah berasal dari Bugis- Makasar, Banjarmasin dan Jawa masuk setelahnya ke Sumbawa dan mendiami wilayah pesisir.

Sedikit informasi dari masa pra-Majapahit Suku Sumbawa yang mendiami bekas wilayah Kesultanan Sumbawa ini menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sasak Samawa yang berpusat di Lombok, kemudian ditaklukkan oleh Majapahit dengan pusat pengaruh di Taliwang dan Seran, sedangkan masa Islam adalah masa penaklukkan Kerajaan Gowa-Sulawesi terhadap semua wilayah Sumbawa dan Selaparang-Lombok dengan pusat pemerintahan mula-mula di Lombok kemudian dipindahkan ke Sumbawa besar karena expansi militer dari kerajaan Gelgel - Bali. Setelah masuknya VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) Kesultanan Sumbawa menjadi bagian wilayah Gubernemen Selebes, dan sesuai pembagian wilayah afdeeling maka Sumbawa masuk wilayah Karesidenan Timor dengan ibukota di Sumbawa Besar.

Sejarah Kesultanan Sumbawa

Hampir setiap daerah-daerah di Indonesia dulu mempunyai sebuah kerajaan baik besar maupun kecil, hal ini juga terjadi di Sumbawa Masa Kesultanan Sumbawa dimulai sejak berakhirnya Dinasti Dewa Awan Kuning yang menganut paham Animisme. Dengan masuknya Islam ke Sumbawa telah mempercepat dan mengkatalis terbentuknya kesultanan Sumbawa yang dikenal dengan nama Dinasti Dewa Dalam Bawa. Sultan yang pertama memimpin Sumbawa adalah Dewa Mas Pamayam (Mas Cini) 1648-1666. Ada tiga “gelar induk” atau Puin Kajuluk yang digunakan sebagai nama gelar kesultanan Sumbawa : Sultan Harun Arrasyid, Sultan Jalaluddin, dan Sultan Kaharuddin.
Perjalanan masa kesultanan Sumbawa telah melahirkan pemimpin yang menegakkan keadilan dan kebenaran dengan keberanian yang ikhlas, sehingga lambang Kesultanan Sumbawa digambarkan dengan macan putih atau sering disebut “Bendera Macan”. Bendera macan putih merupakan lambang keberanian yang ikhlas dan suci, semangat ini telah terwarisi kepada seluruh masyarakat Sumbawa, sehingga menjadi masyarakat yang modern, religius dan demokratis. 
Penobatan Sultan Sumbawa ini merupakan penobatan pertama yang dilakukan sejak kesultanan Sumbawa menjadi 
bagian NKRI. Penobatan ini menjadi sangat penting dan bermakna bagi seluruh rakyat atau Tau Tana Samawa  yang memegang teguh nilai-nilai budaya Sumbawa. Penobatan Sultan Sumbawa tidak dihajatkan sebagai Negara 
Berdaulat, tetapi akan menjadi pengawal / penjaga pusaka Sumbawa yaitu budaya, adat rapang tau dan tana samawa yang religius ( Adat Barenti Ko Syara, Syara’ Barenti Ko Kitabullah) yang bermakna bahwa adat istiadat dan 
budaya Sumbawa senantiasa berpedoman kepada agama untuk kerik salamat tau ke tana samawa (keselamatan masyarakat dan alam Sumbawa). Wilayah kesultanan adat Sumbawa adalah kabupaten Sumbawa dan Sumbawa 
Barat (Kamutar Telu).

Dinasti Dewa Dalam Bawa berkuasa sejak berakhirnya pemerintahan Dinasti Awan Kuning yaitu pada tahun 1623. Sultan-sultan yang pernah memimpin adalah sbb:

No.
Nama Sultan
Masa Pemerintahan
1.
Dewa Mas Pamayam (Mas Cini) (1648-1668)
1648-1668
2.
Dewa Mas Goa (Saudara dari Dewa Mas Pamayam) 168-1675.
1668-1675
3.
Dewa Mas Bantan (1675-1701)
1675-1701
4.
Dewa Mas Madina (Muharan Harun Arrasyid I ) 1701-1725)
1701-1725
5.
Dewa Mas Muhammad Jalaluddin I (Datu Taliwang) 1725-1731
1725-1731
6.
 Dewa Mas Mapasusung Moh Kaharuddin I (1731-1759)
1731-1759
7.
 I Sugi Karaeng Bantoa (Putri Dati Seran) 1759-1761)
1759-1761
8.
Hasanuddin (Alauddin) datu jereweh (1761-1763)
1761-1763
9.
Dewa mas Muhammad jalaluddin II (Pangeran Anom Mangkuningrat) 1763-1766
1763-1766
10.
Mappacongga Mustafa (Putra dari 8) 1776-1780
1766-1780
11.
Mahmud (Harun Arrasyid) Datu Jereweh putra dari 7 (1780-1791)
1780-1791
12.
Safiatuddin Dg. Masiki (Putri dari 10) 1791-1795
1791-1795
13.
Muhammad Kaharuddin II (Putra dari 9) 175-1865
1795-1865
14.
Sultan Amrullah (Adik L. Mesir) 1837-1883
1837-1883
15.
Mas Madina Raha Dewa Jalaluddin III (karena sepuh turun tahta 1883) 1883-1931
1883-1931
16.
Muhammad Kaharuddin III (Daeng Manurung Putra dari 15) 1931-1958
1931-1958
17
Haji DMA Kaharuddin, SE.MBA
2011-Sekarang

Tanggal 5 April 1941, Muhammad Abdurrahman Daeng Raja Dewa Putra Sultan Muhammad 
Kaharuddin III, dinobatkan sebagai Putra Mahkota. Bertepatan dengan tanggal kelahiran beliau Sultan Muhammad Kaharuddin IV, 5 April 2011 di nobatkan sebagai Dewa Maraja Sumbawa yang ke 17 oleh Lembaga Musyakara Adat Tana Samawa.

WISATA DI SUMBAWA
Bercerita tentang sebuah daerah, tentu tak lepas dari hal apa yang menarik disana? Tentu Kita bersyukur hidup di Indonesia, negara yang makmur serta selalu menjaga warisan budayanya. Inilah beberapa daya tarik yang ada di Sumbawa:



Suasana Pulau Moyo

Pulau Moyo
Pulau Moyo bisa dikatakan sebagai tujuan wisata utama di Sumbawa, pulau ini merupakan sebuah pulau yang terletak di teluk Saleh sebelah utara Sumbawa. Pulau Moyo memiliki daya tarik wisata yang cukup lengkap, dataran pulau moyo merupakan habitat dari kawanan rusa, sapi liar, babi hutan dan burung gosong (megapodius) yang dilindungi. Selain itu juga terdapat air terterjun bertingkat yang indah. Sementara di pantai Moyo menyajikan panorama pantai yang indah, serta kekayaan alam bawah air yang mempesona, sangat cocok untuk melakukan snorkeling dan diving. Laut di sini sangat kaya akan ikan, bahkan dari atas pun kita sudah bisa melihat ribuan ikan yang berenag di pantai. Moyo Islan sudah terkenal akan keindahan alamnya, bahkan Lady Diana dan Prince William dari kerajaan Belanda pernah berlibur ke Pulau Moyo.

Saliper Ate




Pantai Saliper Ate
Dalam bahasa lokal arti dai pantai ini adalah pelipur hati. Jaraknya tidak jauh dari kota Sumbawa besar dan dapat dijangkau dengan menggunakan angkutan umum.


Pantai Kencana
Berjarak sekitar 11 Km dari Kota Sumbawa Besar merupakan pantai dengan pemandangan yang indah. Disekitar pantai sudah tersedia fasilitas wisata berupa cottage dengan bentuk bangunan khas daerah Sumbawa. 

Samongkat
Merupakan objek wisata alam pegunungan yang berjarak sekitar 17 km dari kota Sumbawa Besar. 


 
 Pantai Ai Manis
Sebuah pantai pasir putih yang terletak di pulau Moyo. Pantai ini kaya akan ikan dan terumbu karang sehingga cocok untuk melakukan aktifitas air seperti snorkeling. Dari pantai ini anda juga bisa menyaksikan keindahan matahari tenggelam di pulau Moyo. 

Liang Petang
Masih di sekitar pulau Moyo, sebuah gua alam yang di dalamnya terdapat batu yang mirip manusia. Di sekitar gua ini terdapat gua lain yaitu gua kelelawar yang oleh masyarakat setempat sering disebut sebagai Liang Bukal. 

Teluk Saleh

Teluk saleh tapat berada di depan Gunung Tambora. Pantai ini panjang dan berpasir putih, didalam airnya terdapat ribuan jenis ikan dan terumbu karang yang siap untuk dinikmati oleh wisatawan. Selain untuk pariwisata, kekayaan laut teluk saleh yang meilmpah juga dimanfaatkan oleh penduduk lokal untuk mencari penghidupan. Beberapa hasilnya sudah diekspor sampai ke luar negeri seperti Jepang dan Singapura.

Dalam Loka (Istana Tua)
Sebuah bangunan istana tua terbuat dari kayu peninggalan masa pemerintahan Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III sekitar tahun 1885 M. Saat ini Dalam Loka digunakan sebagai Museum Daerah Sumbawa. Anda bisa melihat miniatur istana kayu ini di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). 

Dusun Pamulung
Terletak sekitar 8 km dari kota Sumbawa Besar, dusun ini merupakan desa wisata di mana kita dapat menjumpai atraksi budaya seperti Karaci, Balapan kerbau, Tari-tarian tradisional serta pertunjukan musik tradisional. 

Desa Tepal
Desa tradisional atau desa adat yang terletak sekitar 37 km dari pusat kota Sumbawa Besar. Daya tarik desa ini ialah masyarakatnya yang masih memegang teguh tradisi termasuk cara berpakaian dan bentuk rumah yang unik.

Pulau Bungin
Sering disebut sebagai pulau terpadat di dunia. Konon pulau dengan luas sekitar 6 hektar ini dihuni oleh 3.000 orang, 4.000 ekor kambing dan 1.000 ekor ayam. Pulau ini terbuat dari baru karang sehingga jarang sekali ditemukan rumput, hal ini menjadikan kambing-kambing yang hidup di sini bisa memakan apa saja termasuk kertas, sampah plastik bahkan jemuran penduduk. Unik bukan?

Dusun Talwa
Dusun ini terkeal sebagai tempatnya pandai besi /Black Smith. Dalam membuat peralatan besi seperti pisau, parang dan lain-lain mereka masih menggunakan teknik-teknik tradisional yang sudah turun temurun dari nenek moyang mereka. 

Pantai Sili dan Maci
Kedua pantai ini adalah surganya bagi peselancar. Setiap tahun di pantai ini diadakan perlombaan selancar tingkat dunia.

 
 Ai Loang
Pantai Ai Loang yang disebut juga Tanjung Lamona merupakan salah satu obyek wisata yang ada di kabupaten sumbawa, berada tepat di Dusun Labu Sawo Desa Penyaring Kecamatan Moyo Utara. Tanjung Lamona mulai dibangun sejak awal tahun 2010 oleh PT Ladang Arta Buana dan diresmikan pada tanggal 17 Mei 2011. Pantai tanjung lamona dibangun satu paket dengan perhotelan dan perkebunan jeruk. Hotel yang kini dinamakan dengan Samawa Transit Hotel merupakan hotel yang tergolong elit dengan perkebunan yang dipenuhi oleh tanaman agribisnis, menjadikan pemandangan yang indah. kebetulan penulis pernah berkunjung disana,hehehe

Agro Tamase ( Lembah Tamase )
Adalah Objek wisata baru  yang terdapat di Pulau Sumbawa tepatnya di kec. Buer desa Jurumapin, terletak diatas ketinggian ±500 meter dari permukaan laut. Agro Tamase merupakan objek wisata yang memanjakan wisatawan,  Kita dapat merasakan kesejukkan daerah pegunungan serta ditunjang  dengan kaca mata alam yang menarik diantaranya laut Gili Belo atau laut panjang dan di arah selatan terdapat tangga seribu dimana pengunjung sekedar berjalan-jalan melintasi tangga seribu untuk melihat lembah Tamase yang bisa membawa imajinasi kita bahwasanya manusia dan alam begitu dekat. Rekomendasi dari penulis, objek wisata satu ini wajib di datangi.



"Sebuah berlian atau emas jika dilihat dari tiap sudut memiliki keindahan yang berbeda baik dalam tiap lekukannya atau pancarannya begitu juga dengan Sumbawa,meski menjadi bagian terkecil dari bumi Nusantara ia akan slalu bersinar".


Sebuah kebanggaan terlahir di sebuah daerah yang Indah, serta memiliki sejarah yang panjang. Mungkin sejarah tidak dapat terulang tetapi sejarah telah meninggalkan jejak yaitu budaya yang sampai saat ini masih lekat. Kini bagaimana Kami bisa menjaga warisan para leluhur Kami.

Salam, Sabalong Samalewa

 

 

1 comment: