21 Mar 2013

SISI LAIN JUVENTUS

Selebrasi
Tulisan ini pernah saya baca di sebuah tabloid Soccer, dari seorang wartawan bernama Vincenzo Matrone (Italy) Dari sebuah tulisan ini  terdapat opini bahwa  "Seluruh tim di Italy membenci Juventus". kenapa membenci? cukup satu Jawaban: "Mereka Iri" dengan kesuksesan Juventus di Italy, Dengan Kekayaan Juventus, dengan kebesaran Juventus. Tulisan ini merupakan tulisan lawas 2003/2004, tanpa basa basi mari Kita melihat Sisi Lain Juventus~ tanpa harus Kita curiga itu adalah wujud Kecintaan Kita kepada Juventus.
Berikut isi tulisannya:



Jangan keburu curiga saya anti Juventus jika tulisan ini mengungkap sisi gelap raksasa asal kota Turin itu. Tak ada  maksud menjelek-jelekkan I Bianconeri. Sebagai sebuah tim, harus diakui mereka punya kualitas nomor satu. Tapi, sebagai jurnalis, saya wajib memberi sisi lain dari sebuah berita. Kali ini saya mengungkap pandangan publik pada Juventus.
The Old Lady dikenal sebagai klub paling terpuji di Italia. Sangat serius, dan berusaha menghindari polemik, "very british". mirip klub-klub Inggris yang mengutamakan citra baik di depan publik.
Para pemain Juventus tampil necis dengan setelan jas keluaran mutakhir. mereka mengendarai mobil berkelas keluaran Fiat (Alfa Romeo, Lancia, atau Fiat). Keramahan adalah rahasia lain La Vecchia Signora. Curilah hati publik dengan penampilan rapi dan senyum. Begitu kira-kira imaji yang dibangun Juventus.
Tentu tak semua orang terkesan. "Mereka (Juventus) bisa tenang karena tak perlu merisaukan wasit yang selalu membela mereka." Begitu sebagian masyarakat Italia memandang sinis sosok pemilik 26 Scudetti ini. Pendapat miring yang membuat allenatore Juventus, Marcello Lippi, gerah dan melakukan "aksi bisu". "Jika saya berbicara tentang wasit, publik bakal sinis karena saya adalah pelatih Juventus. Mereka percaya bahwa wasit selalu membela kami di tiap pertandingan." keluh Lippi beberapa pekan lalu.
Gosipnya, di masa lalu banyak wasit yang ketiban rejeki nomplok jika "berhasil" memimpin pertandingan Juventus. Mereka dengan mudah mendapatkan sebuah mobil bagus keluaran Fiat pada hari senin pagi jika bisa "menyenangkan" Juventus.

REPUTASI BESAR FIAT
Ada perbedaan besar antara citra bersih Juventus di mata publik dan kiprah I Bianconeri mengelola klub di balik layar. Salah satunya karena kedekatan mereka dengan Fiat, pemegang saham terbesar Juventus.

Pabrik mobil terbesar di Italian ini selama 40 tahun terakhir diakui sebagai tulang punggung perekonomian Italia. Posisi strategis yang membuat mereka punya pengaruh kuat dan luas, nyaris di semua sendi kehidupan masyarakat Italia.
Itu sebabnya jarang muncul berita buruk soal Juventus. Maklum, Corriere della Sera, Gazzetta dello Sport, dan La Stampa - tiga koran terbesar di Italia - adalah bagian dari Fiat's Family. Koran lain? Jangan harap mereka berani "macam-macam". Jika nekat berani menulis berita miring soal I Bianconeri bersiaplah menanggung resiko besar.
Apa itu? Sang wartawan bisa dilarang meliput pertandingan Juventus, dipersulit saat mewawancarai para pemain, atau sekedar dihambat saat melihat sesi latihan. Resiko lain, Fiat bisa menghentikan semua iklan yang berhubungan dengan mereka di media yang memuat berita buruk itu.
Dalam konteks bisnis, posisi Fiat memang sangat strategis. Mereka punya banyak anak perusahaan merajalela di Italia, nyaris di semua sektor. Jika di-black list oleh Fiat,pendapatan dalam jumlah besar bakal melayang. Sudah ada beberapa contoh di masa lalu yang bisa dipakai untuk membuktikan hal ini.
Tiga tahun lalu - saat Del Piero menunjukkan grafik performa yang menurun - para wartawan menilai Juventus hanya bermain dengan 10 orang karena Del Piero tak memberi kontribusi berarti. Tapi hal itu hanya terungkap dalam diskusi informal.
Begitu mereka membuat berita untuk koran masing-masing, mereka membela habis-habisan pemain yang sama! Itu salah satu contoh betapa kuat pengaruh Juventus dalam percaturan sepak bola Italia. Maka sangat beralasan jika Luciano Moggi, Direktur Umum Juventus, menjadi orang nomor satu dalam sepak bola Italia.
Dia dekat dengan banyak wartawan. Tak segan memberikan segala informasi tentang Juventus, dan tak keberatan menjamu para kuli disket itu. Dia juga sangat ramah dan punya lebih banyak teman dari pada musuh. Susah mencari sisi buruk dari sosoknya yang sama bersihnya dengan citra klub yang dipimpinnya.

Toh ada juga sebagian orang yang percaya bahwa Moggi bisa menjadi populer dan berpengaruh melulu karena jabatannya. Sama dengan Roberto Bettega dan Luciano Giraudo - dua orang penting Juventus -  yang dianggap punya pengaruh besar karena dekat dengan keluarga Agnelli, pemilik Fiat dan Juventus.
Di era sepak bola modern - yang sangat peka dengan isu suap, KKN, dan kecurangan - Juventus punya cara lain untuk mengukuhkan dominasi. Mereka menentukan semua aspek sepak bola Italia: Promosi wasit ke UEFA dan FIFA, menunjuk kandidat pelatih Gli Azzuri, atau merekomendasikan presiden Lega Calcio.
Perhatikan fakta ini: selama 40 tahun terakhir, semua pelatih timnas Italia berasal dari Juventus, kecuali Arrigo Sacchi yang sebelumnya adalah pelatih AC Milan. Tapi jangan salah, bisa terjadi melulu karena Milan secara tradisional punya hubungan dekat dengan Juventus. Itu juga kenapa Adriano Galliani, wakil presiden Milan, direstui menjadi Presiden Lega Calcio terbaru.

RUMOR TANPA BUKTI

Tentu saja berita-berita miring di atas sekedar "banyolan sepak bola Italia" karena tak ada satu dokumen pun yang bisa membenarkan cerita di atas. Tapi bukan berarti publik tak terpengaruh. Tiap kali Juventus bermain jauh dari Delle Alpi, markas mereka, ada saja sekumpulan tifosi kubu lawan yang bernyanyi lantang: "Sapete solo rubare". Artinya kurang lebih adalah: "You know only to stole".


"Ketika Juventus kalah di final Piala Champions 1998 melawan Real Madrid, sebagian warga kota Milan justru menggelar pesta besar. Saat The Old Lady takluk dari Hamburg SV di final piala Champions 1983, ada sebuah kelompok membentuk Felix Magath Fan Club. Klub pemuja Felix Magath, pemain andalan Hamburg waktu itu yang meremukkan Juventus".


Mungkin inilah kali pertama dalam sejarah sepak bola ada "pesta kegagalan" untuk klub lain di suatu negara. Faktanya, kekalahan dan kegagalan Juventus di kejuaraan antar klub justru menjadi pestar besar buat banyak orang di Italia. Meski Juventus sudah memenangi trophy Champions, ada saja yang tetap sinis dan berkata demikian, "Fiat tak punya kekuatan apa-apa di Eropa".
Tiga pekan lalu - saat skuad Juventus diserang wabah flu yang membuat banyak pemain utama berhalangan main - Moggi dan Lippi mengaku sempat mengajukan usulan penundaan pertandingan kepada UEFA. Dan ketika UEFA menolak permintaan Juventus, bersoraklah jutaan orang di Italia.
"Lihat, Fiat memang tidak bisa apa-apa di Eropa. Mereka cuma besar di Italia." Begitu sorak mereka girang. Segirang Juventini yang tak pernah lelah memberi applaus meriah pada tim idolanya. Ibarat sekeping mata uang logam, citra baik dan sisi buruk Juventus adalah dua hal yang terpisah tapi tak bisa dipisahkan. Terserah anda pilih yang mana.

Bagaimana menurut teman-teman Juventini Indonesia setelah membacanya? Tetap Bangga menjadi Juventini (saya Yakin itu)

Ieri,Oggi, Domani Sempre Juventus! 
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment