23 May 2013

Berawal dari Mimpi

Caption: Seorang Sahabat

Kegundahanku terasa dimalam ini, malam yang berselimut lapisan es yang membentuk di kamar kosku hingga membuat pikiranku membeku dan kaku.  Ku buat kopi untuk menenangkan diriku agar nanti aku bisa terlelap dengan tenang. Kopi adalah obat tidur yang manjur bagi tubuhku ntahlah ini terjadi karena kinerja saraf otakku yang lemah atau melawan sugesti pada umumnya.

Meneguk kentalnya kopi perlahan membuat mataku sayu-sayu hingga ku berbaring ditempat terindahku, dengan kasur tipis, bantal dan guling menemani tidurku. Hingga mata kecil ini tak mampu melihat nyatanya dunia ini seperti apa kini. (gelap)

Riuh, gaduh dan ramai suasana yang ku rasa...“Ayo perlengkapannya disiapkan dan digunakan saat Kita upacara” terdengar suara yang menggema diseluruh kelas. Aku hanya diam dan bingung didalamnya dan sosok itu mendatangiku. “Hei kamu, nama  kamu siapa? Apa kamu dengar tadi apa yang diumumkan oleh kakak kelasmu?”.  “Oh iya kak maaf, ini ada apa yah?” sahutku. Dia memandangku dengan matanya yang tajam dan sinis “ini hari orientasi siswa, kamu ini seperti bayi yang  baru lahir aja” dengan nada suara yang kasar. “oh maaf sekali lagi, saya tadi merenung  tapi mendengar kok apa kata kakak sebelumnya (sambil mengalungi ikan kering,dot dan name tag). “Ya sudah sana kumpul bersama teman-temanmu di lapangan,sebentar lagi upacara”, dengan suara nada rendah.

Aku masih keheranan apa yang terjadi, dan aku berkumpul  di keramaian itu dengan orang-orang yang asing bagiku. Ku lihat apa yang mereka kalungi sama seperti yang aku gunakan, “Imam Bonjol” tertulis di name tag mereka ini berbeda, aku coba melihat tulisan di dadaku yang tertutupi ikan asin ini “Untung Soerapati” Oh aku salah alamat, hingga aku berkeliaran mencari kelompokku.  Ku temuilah kelompokku dan aku berbaur dengan mereka.

Ku melihat sosok seorang laki-laki yang  bertubuh tinggi diantara kelompokku, dalam benakku sepertinya aku mengenalnya dengan perawakan yang tidak asing bagiku sambil ku lihat nama di name tag nya tertulis “Iqbal Juliansyah”. Namun aku tidak mau disebut sok akrab dan akupun memilih diam diantara barisan itu. Tidak lama kemudian upacara berlangsung, diantara kekhidmatan upacara ada suara-suara kecil yang terdengar dibarisanku suara itu tidak lain suara dari Iqbal.
Bendera merah putih sudah berada diujung tiang disiang itu, Kami pun diberikan waktu untuk isitirahat. Aku hanya diam dikelas, tiba-tiba ada tangan yang menyapa bahuku dari belakang  ternyata dia sosok yang kukenal tadi “Iqbal”. “Ayo kita ke depan, kita cari minum” sahutnya. Akupun menuruti apa maunya daripada aku hanya diam dan membeku di dalam kelas, Kitapun berjalan menuju kantin depan. Sambil berjalan menuju kantin kami mengobrol menceritakan diri kita masing-masing. Ternyata Iqbal satu SMP dengan teman SD –ku yaitu Ferry, keadaan menjadi cair dan kami meneguk es limun ditengah panas teriknya Kota Sumbawa.

Iqbal seorang teman yang periang, mampu membawa suasana hening menjadi tawa. Dia mampu membawaku menjelajahi setiap kelas yang belum pernah aku masuki hingga aku merasa bahwa sosialisasi ini perlu. Untuk lebih akrab aku menawarkan Iqbal datang ke rumahku agar kelak dia bisa datang bermain atau menjemputku, bukan iqbal namanya jika dia tidak mengajak seorang teman lagi untuk bermain kerumahku.
Seorang anak bertubuh kerempeng dengan rambut tebal berdiri dan mempunyai sisiran belah pinggir,namanya Indra Darmawan.  Kami beranjak pulang dari sekolah ke rumahku, kedua temanku Iqbal dan Indra memang lebih dulu kenalan karena rumah Iqbal dan SMP indra sangat dekat bahkan seperti tetanggaan. Dalam benakku mungkin Indra kalau bolos, dia sering bersembunyi di rumah Iqbal. Indra mempunyai panggilan khusus oleh iqbal, mungkin karena rambut yang tebal dan di paksa belah pinggir jadilah Helm! Entahlah Absurd memang.

Sampailah dirumahku, kedua temanku ini aku layani selayaknya tamu. Aku sediakan minuman dan jajan yang ada dirumah. Indra bertanya kepadaku “tang,kamu dulu SMP mana,kok aku nggak pernah liat kamu di Sumbawa”?, “aku dulu Mondok,jadi aku setahun sekali pulang ke Sumbawa”jawabku. “Oh pantesan,wah kamu pasti hebat maklum dari Jawa”ucap Indra. “Ya aku sama aja kaya kalian, Kita sama-sama ingin sekolah, apalagi di MAN”jawabku. Aku tahu kenapa indra berkata seperti itu, karena sebelumnya si Iqbal sudah memberi tahu bahwa Ibunya si Indra kerja di SMP dekat rumahnya. Melihat seseorang dengan bertanya tentang latar belakang pendidikan itu hanya basa basi menurutku, yang kita lihat sebenarnya adalah apa yang ada didepan Kita saat ini.

“Helm beli rokok didepan sana” sahut Iqbal kepada Indra, tanpa berkata sedikitpun indra pergi membeli rokok di kios depan rumahku. Awalnya dalam rencanaku Aku ingin berhenti merokok di Sumbawa ini, karena aku tahu lingkungan di daerah ini sangat keras apalagi anak mudanya. Ku lihat kedua temanku ini sedang asik mengepulkan asap dari mulutnya. “Tang, kamu nggak merokok?” kata Indra samnil membuat bundaran yang tidak sempurna menurutku. “hmmm....merokok sih tapi dulu di Pondok”jawabku. “Lha emang bisa to merokok di Pondok”? sahut Iqbal. “Iya bisalah, asalkan tau waktu dan tempat“sahutku lagi. “Oh gitu, sekarang kan Kita di dunia bebas tang, waktu terserah kamu dan tempat terserah kamu,jadi aku aneh aja kalo nggak melihat kamu merokok sekarang”dengan nada menggoda. “Okeh deh,ini tanda aku menghargai kalian yah”jawabku. Kami pun merokok diruang tengah rumahku,kebetulan rumah sedang kosong karena Ibu dan Bapakku lagi kerja. Hari itu Kamipun seperti anak pantai yang berlarian di ujung pantai merasakan kebebasan semilir angin yang berhembus menyapa tubuh Kami.

Teeeet...teeeet...teeeet!!! Ku mendengar suara yang nyaring didekat telingaku, dengan mata terbata-bata ku melihat sekitarku yang masih terasa gelap dengan hanya melihat cahaya yang berbunyi itu. “Oh Alarm”dalam batinku, lalu aku merangkak untuk mematikannya kembali. Kini aku tersadar, bahwa Aku terbangun dari kejadian yang ku alami saat SMU dulu. Ternyata Mimpi... Sahabat yang ku jumpai hanya ada dalam mimpi, inilah dimensi yang sepertinya bisa mempertemukan Kita kembali,semoga besok aku bermimpi lagi untuk menyambung mimpi-mimpi yang membangunkanku ini.
Salam,

 

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment