31 May 2013

Lanjutan Mimpi (2)

Madrasah Aliyah Negeri I Sumbawa (2006)

Hari ini tubuhku terasa lelah, setelah seharian berkeliling ke Mitra mencari perlengkapan adik-adikku yang bakal kuliah di Malang. Sesampai dikos aku hanya menikmati kopi yang kurang panas (karena air di galon habis)- maklum tanggal tua *Anak kost hehehe

Ku rebahkan badanku dikasur yang tipis milik kos-an, mata ini ku paksa untuk pejam agar mimpi-mimpi Indah menghampiriku (Gelap).........

Terasa hangat ditubuhku, ini tempat yang tak asing sepertinya dan waktu menunjukkan pukul 10.00. Banyak siswa-siswi yang lalu-lalang melewati beberapa kelas, mereka melihat secarik kertas yang terpampang disetiap kelas berharap ada nama mereka disetiap kelas itu. Aku hanya diam disekitar depan kelasku (kelompok Untung Surapati) dimana tempat ini aku melihat temanku Iqbal Juliansyah. “Hei...” seseorang memegang bahuku dan menyapa “Kamu kelas mana?”sahutnya. “Aku belum tahu, nanti aja setelah yang lain tidak ramai” jawabku. Seorang teman yang menyapa itu bernama Erik Prihatin, aku mengenalnya karena dia adalah siswa paling iseng saat MOS (Masa Orientas Siswa) saking isengnya dia mempunyai hoby  “di hukum guru”. Yah tiada hari tanpa hukuman hingga membuat teman lainnya prihatin, sesuai dengan nama akhirannya “Prihatin”.

Tank, lihat cewek itu manis bener yah?” ucap Erik dengan heboh kepadaku. “Wow, siapa namanya?” aku ikut heboh seperti temanku ini. “Bentar coba aku cari info dulu”sahutnya sambil pergi kearah cewek tersebut. Tak lama kemudian Erik datang menghampiriku, “Tank namanya Mita Indrawati“. “Oh...gitu”jawabku singkat. Tak lama setelah itu Aku berdiri didepan kelas yang tertera sebuah kertas beserta nama-nama siswa-siswi MAN. Namaku tertera di kelas I-4 dan lebih untung lagi Aku sekelas dengan Iqbal,Indra dan Erik si Prihatin, selain untung Aku mendapat bonus sebuah nama yang terdengar tadi “Mita Indrawati”. Aku berdiri lama didepan kelas sambil melihat nama-nama calon teman-temanku lainnya, tiba-tiba datang sosok wanita  yang kulihat tadi bersama Erik. Dia melihat kertas nama-nama siswa di kelas itu dan Aku sangat yakin bahwa dia bakal satu kelas denganku. 

Selamat, kita satu kelas dan perkenalkan namaku Tatank”ucapku ke dia yang merasa bingung, “Kamu Mita kan?” ucapku lagi. Dia hanya mengatakan “Iya”, Ntahlah aku terlalu PD untuk PDKT sama Dia hingga dia merasa takut mungkin  hanya masalah waktu aja pikirku karena Kita bakal ketemu lagi esok dan seterusnya.
Kelas 1-4 itulah kelas pertamaku di Madrasah, Ku merasa seperti  menikmati Sunrise dengan kehangatan dan cahayanya diantara kemunculan fenomena itu Aku masih merasa kecil dan Aku harap selalu ingin menjadi Matahari yang memberi kehangatan.

Didalam kelas yang rame seperti di pasar Seketeng  dengan dihiasi perkenalan antar teman baik itu sebangku atau tidak. Dan Aku hanya diam di bangku pojok nomor dua dari belakang tak lama ada seorang teman menghampiriku untuk mengajakku ngobrol “Halo, kamu tinggal dimana?”ucapnya dan kujawab “aku tinggal di Seketeng” lalu ia memperkenalkan namanya “kenalkan namaku Andri Hamzah, kalau kamu?”dia bertanya kepadaku “Aku Tatank, Oh iya dulu Kamu SMP mana Ndri?”ucapku dengan penuh tanya. “Aku SMP 3 dulu, ada apa? Ada teman yang kamu kenal?” tanyanya kembali padaku. “Oh ada, tuh si Indra yang disana (sambil  mengarahkan pandanganku ke Indra)”. Oh iya Aku kenal kok sama Dia”jawabnya. Tak lama setelah perbincangan itu Kami pun duduk di bangku masing-masing karena  Kami akan menikmati pelajaran pertama di Madrasah Aliyah Negeri 1 Sumbawa.hehehe

Aku tak tahu ini hari apa, karena tiba-tiba tubuhku dibaluti dengan baju batik dan celana panjang berwarna hitam. Aku melihat seorang wanita berjalan dari kejauhan sana dengan wajah menunduk serta menjaga langkahnya agar tetap seimbang pesona wajahnya tak terbayangkan hingga Aku tidak kuat untuk menikmatinya berlama-lama. Setelah semakin dekat dia memasuki kelas 1-4, ntahlah wanita itu sosok yang pernah aku lihat didalam mimpi-mimpiku sebelumnya.  Ku tak tahu kenapa aku tidak pernah menegurnya, karena Aku tahu dia adalah sosok pendiam.

Hari ini merupakan hari tersibuk dalam pikirku, karena sibukku kuhabiskan dengan bersosialisasi dengan teman-teman baru, Aku dan Iqbal serasa sedang berkunjung dan berjalan-jalan dengan sedikit ucapan basa-basi dengan teman-teman yang lain, sangat berbeda dengan Andri yang hanya berdiam diri di kelas karena Dia selalu di hampiri dengan kakak kelas (menurut info namanya Dera). Setelah bosan menghampiri teman-teman di kelas lain, tibalah pikirku untuk menyapa Mita yang sedang mengobrol bersama Nur Imtihan. “Hai Mita, kamu dulu SMP 1 yah?( aku dapat info dari Iqbal)” ucapku SKSD, “Iya, kamu kok tau?” ucapnya agak acuh. “Ya emang berapa sih anak yang pernah sekolah di SMP 1 sekolah di MAN ini” sahutku.    Dia hanya terdiam dan aku mengajukan pertanyaan berikutnya yaitu: “Mit emang rumah kamu dimana?”tanyaku... “Lempeh, emang kamu tau?” sahutnya dengan agak cetus. Aku kali ini terdiam, selama aku tinggal di Sumbawa aku baru mendengar daerah ini “Ah pikirku ini desa mana yah?” dan aku hanya diam sambil mengangguk-anggukkan kepalaku.


Semakin aku melihat Mita, semakin merajalela pula kelakuan isengku untuk mengerjai dia, yah karena anak yang sok seperti dia perlu dikasih pelajaran batinku. Keisenganku terdiam jika ada kakak kelas yang datang menghampiri kelas dengan sekedar cari muka di depan Mita. Wanita ini memang mempunyai paras yang lebih diantara teman wanita lainnya di kelas.

Suatu kejadian yang aneh bagiku, ntah kenapa aku tiba-tiba melemparkan lipatan kertas ke Muka si Dajjal (Mita *panggilanku ke dia)secara diam-diam hingga membuat dia menangis. Tak lama setelah itu guru bahasa Inggris Kami Pak Lathief yang terkenal disiplin dan keras masuk ke kelas lalu kaget melihat murid kesayangannya itu menangis. “Mita, kenapa kamu menangis?”tanya Pak Lathief ke Mita. “Ah sial nih si Dajjal benar-benar cari muka”batinku. “Ada yang lempar kertas ke arah muka Saya, Pak” jawabnya sambil menahan tangisnya. Lalu Pak Lathief dengan gaya khasnya (menggoyangkan kepalanya sambil berbicara) “Siapa yang lempar?kalau tidak ada yang ngaku, semua anak di kelas ini Saya jemur” ucapnya. Sontak aku kaget dan sedikit takut juga, karena aku berfikir bakal kena sarapan pagi dari Pak Lathief. Tak lama setelah itu Pak Lathief siap-siap menginstruksikan siswa-siswi di kelas untuk siap-siap berjemur diluar. “Jadi tidak ada yang mau ngaku yah?”.... Tiba-tiba seseorang pahlawan pemberani berdiri dan maju kedepan, kemudian ia memberanikan dirinya untuk jujur bahwa Dialah yang melemparkan kertas itu. Tak lama setelah dia jujur, suara “Tpeeeeeng”... melayang diwajah Pahlawan tersebut.


Teeeeeeet...teeeet...teeeet... Suara alarm berbunyi disampingku dan aku coba sadar dari tidurku, dengan mematikan alarm handphone Aku duduk diatas ranjang yang tipis milik kost. “Hah, pipiku kenapa yah, kok seperti rasanya panas gitu” batinku... Dan aku sedikit mengingat-ingat bahwa ternyata tadi aku bermimpi. Bermimpi bertemu dengan Sahabat sekolahku dulu. “Oh Tuhan, Engkau begitu pemurah dengan memberikanku setetes rasa masa lalu, Terima Kasih Tuhan”. Tutupku....   

  

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment