2 Jun 2013

Sebuah Perjalanan Sejarah yang tak Terduga




Candi Singosari

Saya tidak bercerita tentang pelajaran sejarah disini, pendidikan sejarah sudah tentu diajarkan dan di dapatkan di bangku sekolah. Ditulisan ini saya ingin mencoba membangkitkan kembali memori masa lalu Negeri Kita(Sejarah). Indonesia adalah negara yang kaya akan Budaya, Adat istiadat , dan karakter (masing daerah,mempunyai keistimewaan). Sejak menginjak tanah Jawa saya sangat tertarik sekali akan sejarah, baik itu masa lalu ataupun masa kini maklum Bapak saya keturunan Jawa asli (Blitar). Dari sini saya berfikir “Sebuah penghinaan Jika saya tidak mengerti asal-usul darah yang terkandung dan mengalir di tubuh ini”. 



Pada tanggal 28 Januari 2013, Saya bersama ketiga sahabat yaitu Abdur,Laga dan Mukhlis pergi ke daerah Singosari. Awalnya hari itu Kami ingin mencari mie ayam Araya (terkenal enak dan murah meriah) namun sudah suratan takdir jika mie ayam araya tutup. Hingga Laga mengajak Kami untuk menikmati Bakso Mercon yang ada di daerah Singosari. Sampailah Kami di daerah Singosari dengan pemandangan klasik nan modern karena banyaknya rumah-rumah penduduk yang berdiri diantara sawah-sawah. Tak lama sampailah Kami di sebuah rumah yang menjual Bakso mercon, memang bakso mercon ini seperti mercon yang siap meledak jika disantap hingga membuat lidah ini bergetar karena pedasnya. Abdur bertanya kepada Laga “Ga, dari mana kamu tahu tempat ini?apakah kamu pernah mengajak cewek di tempat ini?”sambil menikmati pentol mercon. “Nggak Dur, dulu aku pernah kesini sama Samid karena nyasar dan lapar menghampiri jadi kita mampir ditempat ini”jawabnya. Menurut Saya, kalau ngomongin makanan memang makanan yang enak dan sedap itu ketemunya disaat yang tepat (lapar) dan Kita belum pernah kesana/sekedar coba-coba, suratan takdir?Entahlah....


Setelah mencicipi Bakso mercon kami sepakat untuk berwisata ke Candi Singosari, mubazir rasanya jika Kita tidak mampir dan menikmati momen ini apalagi jelas-jelas Kami melewati sebuah bangunan Candi itu. Kebetulan Saya dan Abdur bukan orang Malang asli jadi Kami ingin melihat sebuah fenomena yang ada di tanah Jawa ini. Hehehe Kisah ini bukan seperti di Film The Librarian tentunya.

Candi Singhasari atau Candi Singasari atau Candi Singosari adalah candi Hindu -Buddha peninggalan bersejarah Kerajaan Singhasari.  Berdasarkan penyebutannya pada Kitab Negarakertagama pupuh 37:7 dan 38:3 serta Prasasti Gajah Mada bertanggal 1351 M di halaman komplek candi, candi ini merupakan tempat "pendharmaan" bagi raja Singasari terakhir, Sang Kertanegara, yang mangkat pada tahun 1292 akibat istana diserang tentara Gelang-gelang yang dipimpin oleh Jayakatwang. Kuat dugaan, candi ini tidak pernah selesai dibangun. (Sumber: Wikipedia)


Berdiri didepan Candi
Dibawah Dwarapala
Bersama Arca Dewi Parwati

Abdur,Laga dan Mukhlis







Setelah melihat Candi Singasari itu terdiri dari beberapa candi.  Diantaranya ada sepasang arca raksasa yang tingginya mencapai  4 meter yang disebut Dwarapala. Posisinya gada menghadap ke bawah, ini berarti meskipun penjaganya raksasa tetapi masih ada rasa kasih sayang sesama mahluk hidup dan Saya menyempatkan diri foto-foto disitu(hehehehe).  Nah, di dekat dwarapala ada sebuah alun-alun Itu artinya candi ini bisa jadi  terletak di pusat kerajaan. Lokasi candi Singasari yang dekat dengan Gunung Arjuna menunjukkan juga bahwa, penggunaan candi ini sebagai upacara keagamaan yang tidak terlepas dari keberadaan gunung Arjuna karena sebelumnya  para pertapa biasanya bersemayam di puncak gunung pada waktu itu.

Berbicara sebuah Candi pasti kita ingin tahu karena alasan apasih Candi ini di bangun, apakah kisahnya sama seperti Roro Jonggrang yang menginginkan sebuah seribu candi dalam satu hari kepada Raden Bandung Bondowoso? 

Ternyata tidak, sedikit Saya mendapat informasi bahwa Candi Singosari ini di bangun oleh kerajaan Singosari. Kisah tentang kerajaan Singosari, pertama kali disiarkan dalam karya J.L.A. Brandes, Pararaton of het boek der konigen van Tumapel en van Majapahit uitgegeven en toegelicht, di tahun 1896. Dalam karya tersebut J.L.A. Brandes membahas tentang kisah pendiri Singasari sebagaimana tertulis di dalam Serat Pararaton atau yang juga disebut sebagai Katuturanira Ken Arok. Dimulai dengan cerita tentang Ken Arok yang kemudian menjadi pendiri kerajaan Tumapel dan mengambil nama abhiseka  Rajasa Sang Amurwabhumi setelah mengalahkan Raja Kertajaya dari Kediri. Sejak saat itu, cerita Ken Arok mulai dikenal di lingkungan kesejarahan Indonesia.Pararaton adalah manuskrip jawa kuno yang ditulis dalam bentuk dongeng yang berbeda dengan bentuk tulisan sejarah. Oleh karena itu beberapa ahli sejarah menolak kebenaran naskah tersebut. Namun, perlu diperhatikan bahwa cerita itu tidak diperuntukkan bagi para ahli sejarah, melainkan bagi masyarakat Jawa Kuno yang pada saat itu banyak mendapat pengaruh dari kepercayaan Hindu. Maka dengan sendirinya, manuskrip tersebut dikisahkan sesuai dengan alam pikiran masyarakat yang membacanya. Ajaran hinduisme, meliputi diantaranya dewa-dewa, titisan, karma dan yoga. Ajaran itu mempengaruhi alam pikiran masyarakat Jawa dan kesusasteraannya. Pararaton adalah hasil sastra dari zaman itu, maka dengan sendirinya sastra Pararaton juga bersudut pandang ajaran Hinduisme.

Rasa puas dan Bangga berkunjung di Candi Singosari, walaupun tempatnya tidak terlalu luas namun membayangkan akan sejarahnya membuat pengetahuan Kita luas. Bayangkan saja, Kita harus membaca kisah Ken Arok, Kendedes dan Kerajaan Kartanegara hingga Kisah kerajaan Singosari sendiri. Luar biasa, rasa bangga menjadi orang Indonesia  terlahir apalagi dengan menanamkan rasa Pancasila. Lebih-lebih bagi orang Malang Asli karena Malang memang merupakan pusat kerajaan besar di wilayah Jawa, yang menguasai daerah sekitarnya (Prasasti Mula-Malurung 1255 M). 


Sesuai dengan bunyi Undang-Undang No.5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya antara lain berbunyi:
“Upaya melestarikan benda cagar budaya dilaksanakan selain untuk memupuk rasa kebanggaan nasional dan memperkokoh kesadaran jatidiri sebagai bangsa yang berdasarkan Pancasila, juga untuk kepentingan sejarah, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan pemanfaatan lain dalam rangka kepentingan nasional”.


Setelah berkunjung ke candi Singosari, Kamipun menyempatkan waktu untuk mampir ke Patung Ken dedes yang berdiri di  kawasan Arjosari.  Saya penasaran dengan seorang wanita yang katanya cantik jelita dan mempunyai suratan takdir yaitu “siapa yang menikahi Ken dedes ia akan menjadi Raja”. Rasa penasaran saya terbayar dengan berfoto bersama Sahabat, Pikirku hari ini adalah sebuah perjalanan yang tidak sia-sia dari Kami melewati  Singosari hingga ke patung Ken dedes. Awesome!!!

Berdiri di hadapan Ken Dedes,Wow!!!




"Saya bukanlah seorang Budayawan, namun timbul rasa khawatir akan hilangnya sebuah nilai budaya dan sejarah,seperti menikmati buah yang manis jika habis pasti akan terbuang dan tak tersisa tanpa harus Kita mengingat rasa manis tadi. Mari Kita tanamkan rasa bangga akan budaya dan sejarah di Indonesia, demi generasi yang akan datang agar tetap terkenang untuk selamanya serta menjadikan dasar Karakter Bangsa Indonesia". 

Terima kasih Aku Ucapkan untuk Sahabatku Abdur, Laga dan Mukhlis. Kalian adalah Juventini Sejarah... 



Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment