5 Jun 2013

HATI AISYAH YANG BERSUJUD ( Intro)

Ilustrasi

Selembar kertas menghiasai ruang tamu dirumah yang sederhana hingga mempunyai makna bagi keluarga  yang tinggal disitu. isinya berupa nilai, yang bisa membuat perabot bercahaya seperti lukisan, sofa dan nilai estetika yang ada diruang itu. Itu adalah kertas nilai raport Aisyah, anak tunggal dari keluarga Bapak Arif dan Ibu Hanum.
Aisyah adalah siswi dari sebuah madrasah yang berada disebuah kota kecil di kabupaten Sumbawa, kota panas yang bisa membuat orang mudah berkeringat sebelum melakukan aktivitas. Dari kota ini Aisyah mampu menjaga dirinya dengan balutan jilbab yang rapih menutupi lekuk tubuhnya yang sudah mulai beranjak dewasa. Wajahnya sejuk serta memiliki senyuman yang mampu menghipnotis orang-orang di sekitarnya.

Kembali ke ruang tamu, Ucapan salam terucap dari bibir aisyah sebagaimana biasanya tiap hari dia memasuki rumahnya itu “Assalamualaikum”, Wa alaikum salam jawab seorang Pria yang berada di ruang tamu.  Biasanya suara itu terjawab dari dapur  atau ruang tengah namun kali ini sangat berbeda. Bapak Arif namanya, seorang pria yang dibanggakan aisyah  dan dari dialah segala kasih sayang itu mengalir bagaikan air yang mengalir tiada henti. “Aisyah, sini duduk sebentar” sambil tersenyum melihat secarik kertas nilai yang ada di meja. “Iya Abi” jawab aisyah sambil menundukkan kepalanya ke lantai. “Abi lihat nilai-nilai kamu di sekolah mengalami peningkatan, Alhamdulillah abi senang dengan perolehan kamu ini”.  Aisyah menatap ke arah sosok pria yang di banggakannya itu “Alhamdulillah bi, ini semua berkat kerja keras dan doa kita sekeluarga” ujarnya riang. “Nah sebentar lagi kamu akan ujian nasional, abi ingin kamu tetap mempertahankan prestasi kamu ini, Abi senang melihatnya”.  Lalu sosok seorang wanita ikut nimbrung di ruang tamu, dia adalah sosok wanita yang menjadi contoh bagi Aisyah dikehidupan sehari-harinya,Ibu Hanum namanya. “Ummi juga senang lho melihatnya, meski ummi sibuk di dapur tadi hehehe”. Memang sudah merupakan kebiasaan yang mewajibkan bagi seorang istri dalam berumah tangga, mempunyai waktu di dapur untuk menyajikan masakan terbaiknya bagi keluarganya. “oh iya Ummi, hehehe...ummi emang masak apa hari ini? Ujar aisyah. “OOOh Ummi masak *singang, biasa kan masakan favorite kamu”...jawab Ibunya.

“Nah jadi begini, mumpung kita berkumpul di ruang tamu, Abi mau nanya ke kamu Aisyah. Tahun inikan merupakan tahun terakhir kamu di Madrasah, abi mau nanya apakah tekad kamu sudah bulat untuk masuk ilmu keperawatan di Mataram?” tanya sang Ayah. “Insya allah tekad Aisyah sudah bulat Abi, dan itu sudah cita-cita aisyah dari dulu” ujar aisyah lembut. “Abi hanya memastikan saja nak, karena apa yang Aisyah cita-citakan itu merupakan jalan hidup untuk keluarga kecil kita ini. Abi sama ummi sangat mendukung akan pilihan kamu itu, bagaimana ummi? Ujar Ayah aisyah.
Dengan rona senyuman indah dan mekar Ibu hanum membelai kepala anak tunggalnya yang dibaluti jilbab itu. “ummi setuju dengan apa yang abi ungkapkan, dan ummi bangga akan kamu nak”. Sekilas kebahagian terpancar diwajah keluarga kecil itu. Beberapa menit momen itu kembali terhidang di meja makan, mereka menikmati hidangan masakan  yang tersaji.

Setelah menikmati hidangan makan siang bersama Aisyah menuju ke kamarnya, untuk menunaikan sholat dzuhur, setelah itu seperti biasa Aisyah mendengarkan lagu favoritenya dari mp3nya yaitu lagu D’masiv dengan suara petikan gitar yang begitu khas terdengar di balik headsetnya, sebuah lagu yang  mengambarkan bahwa beratnya hidup ini harus dijalani dengan jiwa pantang menyerah. Sambil memejamkan mata Aisyah menikmati syair lagu itu.
Tiiiit...tiiit..tiiit suara sms terdengar dari hp milik aisyah...Tiiit...tiiit suara itu berbunyi hingga 2x. Menandakan ada 2 pesan masuk di inbox hp aisyah...5 menit kemudian suara berbeda terdengar dari hp aisyah,  menandakan ada panggilan masuk dengan nama  “Nisa” Nisa adalah sahabat aisyah di sekolah, dia merupakan cewek tomboy di antara cewek-cewek yang ada di Madrasah, pernah suatu hari si Nisa di tembak oleh seorang cowok melalui surat yang isinya “Hai Nisa, kamu bagaikan batu yang kuat di panas teriknya matahari, dan aku bagaikan embun yang akan selalu menyejukkanmu. Meski kelak kau pecah, aku ingin separuh dirimu untukku”.  Sontak Nisa datang menghampiri cowok itu dan mengajaknya berantem. “Kamu mau berkelahi sama aku? Emangnya aku mau di jadiin batu?kmu kira aku anak durhaka? “. Seperti itulah Nisa, sensitive dan berkarakter di sekolah. 

Tidak lama kemudian Aisyah terbangun dan menganggkat telpon dari sahabatnya itu. “Aisyah....kok sms aku gak kamu balas sih? Aku kan lagi butuh pendapat kamu nih”. Aisyah menjawab “Nisa sayang,kamu ini kebiasaan ceplas-ceplos kaya gini, nggak pakai salam pula?” mencoba membalas perkataan Nisa dengan nada menasehati sahabatnya itu. “Maaf Aisyah, aku bingung nih... cowok yang aku ajak berantem itu nggak kapok-kapok ganggu aku lewat suratnya, ini aja barusan dia SMS terus aku telepon dia nggak diangkat...aduh maunya apa sih?” ujar nisa dengan nada tinggi seakan penuh sensasi di dalam pikirannya.
“Aku lagi istirahat tadi, lagian aku tadi lagi ngobrol-ngobrol sama Abi dan umi tentang masa depan aku. Nanti sore Kita bertemu aja yah di lapangan pahlawan, sekarang cuaca masih panas banget... Oh iya sekalian beritahu Ulfa yah?” kata Aisyah kepada sahabatnya itu. “Okay,nanti aku SMS Ulfa biar dia datang. Sorry yah ganggu tidur siang kamu,bye say..” Ucap Nisa yang langsung mengakhiri pembicaraan ditelpon. Aisyah hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah sahabatnya itu.

Waktu telah menunjukkan pukul 4 sore di Sumbawa, cahaya matahari yang terik berkurang sedikit karena ditutupi awan sore yang menggumpal. Hanya terlihat sebuah lapangan hijau yang di tumbuhi rumput dan bunga-bunga di taman, nampak sebuah mobil dengan tengki besar menyirami taman itu. Mereka menyebutnya Lapangan pahlawan tempat para remaja menghabiskan waktu senggangnya disana. Dari sudut lapangan itu terlihat 2 orang gadis dengan bahasa tubuh menunggu, mereka adalah Nisa dan Ulfa yang sedang menunggu aisyah. Ulfa merupakan salah satu sahabat aisyah, sosoknya yang begitu smart,realistis dalam berfikir, dan memiliki wajah yang manis dibandingkan nisa yang berperawakan tomboy. Tak lama menunggu tibalah sosok aisyah dari ujung jalan lapangan pahlawan dengan membawa kantong plastik yang berisikan air mineral dan camilan dari rumahnya yang tidak jauh dari tempat mereka berkumpul.
“Nah tuh Aisyah, kira-kira apa yang dibawa sama dia? Ujar ulfa. “Ah itu paling jajan dari rumahnya yang gak bisa dia habisin trus dia bawa deh kemari” celetuk nisa. Tibalah Aisyah di hadapan kedua sahabatnya itu “Assalamualaikum...”ucapnya  dengan senyuman. “Wa alaikum salam” jawab kedua temannya dengan kompak.

(BERSAMBUNG)
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment