30 Jun 2013

Suara dari Mereka (Kisah di UM)


Menunggu
“Dengan pelupuk mata digantungi rasa kantuk, lelah orang tua itu memandangi pintu keluar bagi calon mahasiswa baru, lalu ia berkata “Lelah sekali pekerjaan menunggu ini, aku tak akan pernah merasa kesal atau bergumam untuk anakku. yang ku butuh hanya doa untuknya agar bisa sukses dengan pilihannya “.

Itu salah satu  dari ribuan orang yang berada di Graha Cakrawala UM (Universitas Negeri Malang) tempat pendaftaran ulang calon mahasiswa baru yang diterima lewat jalur Undangan, tentunya mereka yang berprestasi di jalur akademik maupun non-akademik. Tanggal 18 Juni adalah ujung dari beberapa mimpi yang akan mereka rangkai, tak terkecuali adikku Muthia Permata Sari yang diterima di jurusan PGSD.

Kita tiba di Graha Cakrawala pukul setengah sembilan pagi, dengan mata terbelalak melihat pemandangan antrian orang beserta orang tuanya yang seakan membanjiri kampus UM. Kami pun bergegas untuk keantrian bagian verifikasi karena adikku UKT-nya (Uang kuliah tunggal) belum keluar di akun website.  Dengan duduk manis  seperti bertapa mengharapkan sebuah ilham dengan lamanya Kami menunggu petugas memanggil nama adikku ini lewat sound yang ada di setiap sudut bangunan . Sekitar 6 jam ilham itu datang dan menghampiri Kami untuk segera menghadap petugas verifikator, tak lama setelah di interogasi petugas Kami di persilahkan untuk menuju ruang registrasi (di dalam ruangan luar Graha Cakrawala). Adikkupun melangkah masuk ke dalam dan aku tertinggal diluar, bersama orang tua calon mahasiswa.

Kini ku sendiri di tengah keramaian ini, hanya ingin merasakan aura yang ada di setiap pemandangan alami ini, ada cucuran keringat, kebulan asap, dan bau makanan yang dibawa oleh orang tua calon mahasiswa. Kini ku coba untuk mengekplorasi pemandangan yang jarang ku temui ini, tentunya tidak seperti di antrian tiket Bus Arjosari jika mudik lebaran.

Kucoba duduk didepan tangga Graha cakrawala, ku melihat seorang Bapak-bapak yang mengeluarkan asap di mulutnya. “Permisi Pak, bisa pinjam koreknya?Ucapku”. “Oh monggo Dek”ucap bapak itu. Perbincangan basa-basi ini pun berlanjut, “Bapak nunggu anaknya yah Pak, diterima di jurusan apa?” tanyaku. “Iya Dek, diterima di jurusan Ekonomi, adik juga kuliah disini?balik bertanya”. “Oh nggak pak, saya di Brawijaya”. “Oh, katanya Kuliah di sana mahal yah?”, “kalo sekarang sih mahal Pak, karena Brawijaya udah menetapkan otonomi kampus sama kok kaya UM”.  Bapak itu hanya mengangguk saja. Lalu ku coba untuk mengalihkan ketopik yang lain, “Bapak berdua aja sama anaknya kesini?”kembali berbasa-basi karena waktu telah memberikan Kami kesempatan. “Iya dek, saya sama anak saya dari Pasuruan, tiba disini pukul 8 pagi tadi dan hingga sekarang pukul  5 sore belum selesai urusannya”.

Itu sedikit pembicaraan Kami, Dengan muka yang lusuh dan lelah bapak itu sempat bercerita  bahwa sebenarnya anaknya ini disuruh bekerja setelah lulus SMU sama Ibunya, namun sang Bapak bersikeras untuk tetap menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. “Lha Ibunya malah suruh dia kerja mas, masa seperti Bapaknya yang menjadi buruh ini? Kita ya ingin ada perubahan status dalam keluarga Kami”. Spontan Aku kaget mendengar Bapak ini berbicara seperti itu, kaget karena salut aja dengan semangatnya yang ingin kualitas hidup keluarganya lebih baik. Sesungguhnya Orang Tua itu bukan meninggalkan harta untuk anaknya melainkan Ilmu << "Quote of the Day"

Selain itu Bapak ini mengeluh juga karena biaya kuliah sekarang mahal, Aku sedikit memberi informasi kenapa kuliah mahal? Peraturan soal otonomi kampus diatur lewat Undang-Undang Pendidikan Tinggi Nomor 12 Tahun 2012. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berharap dengan UU itu kampus menjadi lebih mandiri dalam pengelolaan keuangan.  Lihat contoh Brawijaya yang sudah melakukan otonomi kampus, sekarang lagi membangun gedung-gedung bertingkat dan juga asrama untuk Mahasiswanya. 

Imbasnya tentu biaya SPP akan menjadi mahal, bagi mereka yang kelas menengah mungkin akan susah masuk ke PTN Favorit (padahal otaknya mampu) terbebani biaya. Dan Aku juga sempat kaget bahwa per-semester sekarang bayarnya + uang gedung. Memang sih kalkulasinya bakal sama tapi ini akan menjadi beban bagi mereka yang mempunyai ekonomi rendah.

Ada yang bilang seperti ini: “Tidak ada pendidikan murah, apalagi gratis, jika kita berorientasi pada kualitas output yang disertai dengan fakta kenaikan harga kebutuhan infrastruktur dan sarana prasarana pendukung pendidikan.”

Coba Kita lihat Rene Descartes yang mengatakan bahwa “aku berpikir, aku sadar, maka aku ada” dengan demikian, kesadaran yang ada dalam pikiran itu membuat kita memiliki pengetahuan. Kondisi pendidikan di Indonesia harus mulai diarahkan kepada peningkatan kesadaran peserta didik dalam memandang objek yang ada, peran pendidik yang sangat dominan dan otoriter harus dikurangi, peranan pemerintahpun dalam “mengacak-acak” kurikulum harus dikaji secara cermat, kalaupun itu harus dilakukan maka terlebih dahulu harus dilakukan penyerapan aspirasi secara demokratis.

Kenapa kok bisa begini? Negara Kita belum terfokus didalam bidang Pendidikan. Lihat saja kasus Soal Ujian dan kontroversinya. Pro-kontra masih ada sampai sekarang  hingga ujung-ujungnya juga nanti lari ke Politik. Bapak ini sampai berkata “Ya paling ujung-ujung lari ke politik dek”. Aku setuju karena hidup Kita tidak jauh dari Politik, semua emang berdasar dari Keinginan tiap orang/kelompok. Tinggal memilih mana yang Baik bukan paling Benar (karena di dalam dunia politik mereka sok-sok an untuk menjadi paling benar). 

Kini semua kembali pada Kita, seharusnya Kita bisa bangkit didalam keterpurukan/keterbatasan Kita sebagai manusia. Dan mari berteriak “Mati aja buat mereka yang Kapitalis”...

Pembicaraan Kami berakhir setelah Putri bapak itu keluar dari pintu yang beliau lirik dari tadi, Tepat pukul 19.30 WIB matanya berbinar-binar dan bangga akan anaknya yang telah resmi kuliah di UM.  SELAMAT!!! Beberapa lama kemudian Adikku Tia keluar dengan membawa senyuman manisnya, Alhamdulillah ucapku dalam hati. Kata-kata yang keluar saat keluar dari pintu Graha Cakrawala yaitu “Tia lapar banget mas, ayo Kita makan ke SS”. “Bukannya bersyukur malah lapar,hehehe...”sahutku. Dia hanya tertawa sambil memasuki berkas-berkas kedalam tasnya.. Yah moga aja besok kalo udah kuliah laper yah, laper akan ilmu tentunya.
Kamipun beranjak ke SS( Spesial Sambal)  dimana tempat ini menjadi tempat favorit adik-adikku Tia dan Rilla.

Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment