3 May 2016

Dari Nelayan Tua Hingga ke Ranieri






Claudio Ranieri

“Tetapi lelaki tak diciptakan untuk kalah. Seorang lelaki bisa dihancurkan,namun tak bisa dikalahkan,” Santiago- The Man and the sea.

Petikan kalimat tersebut mungkin ada di benak Claudio Ranieri selaku manajer Leicester City ketika membangun timnya dengan semangat dan tekad yang luar biasa. Ia dan Santiago, tak jauh berbeda, sama-sama tua dan tak pernah merasakan kejayaan lagi di kala dunia semakin berubah di setiap detiknya.

Sebelumnya saya ingin menceritakan sedikit tentang kisah cerita yang fenomenal karya Ernest Hamingway,yakni The old man and The sea. Seorang nelayan tua yang pernah sukses di masa mudanya dalam mengarungi lautan untuk mencari ikan di lautan yang luas. Lantas, memasuki usia yang tak muda, ia dijuluki “pemburu ikan yang sial” oleh masyarakat tempat tinggalnya. Hal tersebut karena belakangan ia sudah jarang mendapatkan ikan lagi.

Untungnya, ia memiliki teman, seorang anak muda yang tiap hari menemaninya. Ya, seorang bocah yang selalu melayani dan merawatnya selama berlayar ataupun ketika tak melaut. Tak ayal, suatu hari ia pergi berburu seorang diri, hingga akhirnya sukses mendapatkan ikan Marlin Raksasa, kejadian itu membuat masyarakat setempat takjub dengan apa yang didapatkan si nelayan tua tersebut. Dari perburuannya selama 85 hari, Santiago melewati berbagai cobaan yang berat, namun imajinasi dan semangatnya lah yang membawanya kembali sukses.

Ranieri seorang pelatih berusia 64 tahun, yang pernah membesut beberapa klub, yakni Cagliari, Napoli, Fiorentina, Valencia, Atletico Madrid, Chelsea, Parma, Juventus, AS Roma, Inter, Monaco dan Timnas Yunani. Dari tangannya, ia berhasil membangun pondasi klub dengan mencetak beberapa bibit muda hingga menjadi pemain kunci. Sayangnya, ia tak pernah mempersembahkan satu gelar juara liga, baik di Italia, Spanyol dan Inggris.

Siapa yang tak kenal Frank Lampard, Jhon Terry (Chelsea), Claudio Marchisio (Juventus) segelintir pemain yang diangkat namanya oleh pelatih kelahiran Roma tersebut. Mereka sudah memiliki jalannya sendiri, tetapi ingat, Ranieri lah yang membuka kunci menuju kesuksesan pada pemain tersebut.

Ranieri ditunjuk menangani Leicester City setelah menggantikan peran Nigel Pearson musim 2014-2015. Tim ini musim lalu berjuang keluar dari zona degradasi, namun kedatangan pelatih Italia tersebut mengubah mental skuadnya dengan daya magis. Pemain seperti Jamie Vardy dan Riyad Mahrez lahir menjadi sosok vital di King Power Stadium.

Ya, Vardy merupakan prototipe awal racikan Ranieri musim ini dalam menciptakan magisnya. Hal ini dilakukan agar semua mata tertuju pada klubnya yang kerap dipandang sebelah mata. Hasilnya, mantan pemain Sheffield Wednesday tersebut sukses menyamai rekor milik eks penyerang Manchester United, Ruud van Nistelrooy. Golnya ke gawang Newcastle United tak hanya membuka keran gol kemenangan 3-2 timnya, melainkan jadi gol ke-10 dari sepuluh laga beruntun.

Tak berhenti disitu, rekan Vardy, Riyad Mahrez juga berperan penting dalam menjalankan mesin kemenangan demi kemenangan timnya untuk tetap bertengger di papan atas klasemen Premier League. Ia berhasil menceploskan 17 gol dan 11 assist bagi The Foxes yang bisa saja bertambah hingga akhir musim nanti.

Luar biasanya, Leicester City berhasil keluar sebagai juara Liga Inggris musim 2015-16, hal ini terjadi setelah pesaingnya, Tottenham Hotspur melawan Chelsea (mantan klub Ranieri) meraih hasil imbang 2-2. Praktis memiliki selisih tujuh angka dengan dua pertandingan sisa, anak asuh Pocchetino, tak bisa mengejar poin milik Leicester yakni 77 berbanding 70 milik Spurs.

Sentuhan magic Ranieri musim ini diciptakan lewat kekompakan antar lini. Ya, musim ini Leicester menggunakan formasi basic yakni 4-4-2, kendati demikian pola tersebut bertransformasi menjadi double 6. Dimana dasarnya menumpuk pemain di sector tengah dengan lima pemain dan satu pemain tunggal di lini depan. Mahrez dan Vardy menjadi dua pemain kunci yang membuat kombinasi yang apik dalam menelurkan beberapa peluang gol. Poros ini sangat kuat, karena ditopang distribusi dari  lini belakang, hingga ke tengah dan diteruskan ke depan.

4-4-2 double 6


Formasi tersebut digunakan sebanyak 10 pertandingan dari 41 di seluruh laga yang diikuti Leicester. Selain itu, Ranieri mencoba beberapa formasi 4-3-3 ofensif, namun hasilnya mereka kalah dari pesaing mereka Tottenham di Piala FA.

Dari seluruh pertandingan yakni 44, Leicester tercatat meraih 24 menang, 2 seri dan lima kali kalah. Gol yang tercipta pun ada 77 dengan jumlah kebobolah 46.

Memang, Ranieri pernah sukses mengantarkan beberapa trofi bagi klub yang pernah dibelanya. Diantaranya Fiorentina Coppa Italia dan Super Coppa Italia (1995), Piala Raja Spanyol (1998), dan UEFA Super Cup (2004) bersama Valencia. Namun, kini ia sukses di ranah Inggris dengan menjuarai Premier League pertamanya bersama tim yang tak diunggulkan pada awal musim. Hal ini menjadi pukulan telak bagi klub-klub kaya Inggris yang terkenal royal mengeluarkan duit.

Kederhanaan serta pengalaman membuat nama Ranieri kembali terangkat, hal tersebut banyak memberikan pelajaran. Sama seperti keadaan yang diterima Santiago, sang nelayan tua yang dicap nelayan sial, sudah tak memiliki energi lagi untuk berlayar. Namun kepercayaan tekad yang kuat itu muncul hingga membuat semuanya tercengang dengan apa yang dibawanya yaitu Ikan besar.
Saya ucapkan Selamat kepada Claudio Ranieri, saya mengenal Anda karena pernah membesut Juventus, meski tak ada gelar yang anda berikan. Setidaknya anda sudah membuka jalan dengan membangun pondasi tim dari pemain muda yang ada. Congratulations!

*Saya adalah orang yang mau belajar dari ketidakpercayaan menjadi percaya.   

2 comments:

  1. Bagus sekali artikelnya, sukses ya min. Informasinya menarik dan menambah wawasan

    ReplyDelete